Tangisan Bioskop
Beberapa hari yang lalu, salah satu
bioskop ternama di Solo memutar film atas novel yang pernah ditulis oleh
sastrawan besar negeri ini.
Film yang mengangkat sejarah
tenggelamnya sebuah kapal dengan dibumbuhi kisah cinta yang harus hanyut disapu
gelombang adat budaya itu, menjadikan para penonton berduyun-duyun mendatangi
bioskop. Begitu juga dengan sepasang kekasih di sebuah perkantoran swasta Solo
ini, Cempluk dan Koplo, yang juga sudah ngampet
nonton.
“Cin, besuk minggu jangan lupa jemput
cinta jam 11.00 teet, ya.” Cempluk ngelingke
Koplo lewat sms-nya.
“Iya, Say. Pasti cinta tepat
waktu.” Jawab Koplo.
Hari sabtupun berganti minggu.
Dengan motor lanangnya, Koplo
menghampiri kekasihnya, Cempluk. Akhirnya jam 11.30 Wib. Mereka sampai di salah
satu mall besar di kota Bengawan dan mulai ngantri
tiket.
Jam 12.00 tepat, mereka dan
penonton lainnya akhirnya bisa menikmati film yang mereka tunggu-tunggu.
Keadaanpun hening ketika film
diputar. Saking terenyuhnya menonton film itu, Cempluk meneteskan air mata dan
mengambil secuil tisu dalam kantongnya.
“Huks.. huks.. ” Suara Cempluk sambil
merapatkan kepalanya ke lengan Koplo.
“Ampun nangis, Dhik, kan Cuma film lho.” Jawab Koplo.
“Huks..huks.. Huks..” Tangisan
cempluk masih terdengar lirih.
Saat itu juga penonton sebelahnya
yang dari tadi memperhatikan Cempluk nyelethuk, “Mbake ki, mung ngono wae nangis”.
Tiba-tiba beberapa orang yang
mendengar suara itu langsung tertawa dan memandang pasangan Koplo dan Cempluk.
Walaupun keadaan remang-remang, Koplo tak bisa menahan rasa malunya. Ia hanya
bisa cengar-cengir sendiri. Ealaah..., ceweknya yang polah, tapi cowoknya yang kepradah
niee..
Bisri Nuryadi
Bolon, Rt.004/Rw.002
Kec. Colomadu, Kab. Karanganyar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar