Kamis, 12 Maret 2015

Tangisan Bioskop

Tangisan Bioskop
Beberapa hari yang lalu, salah satu bioskop ternama di Solo memutar film atas novel yang pernah ditulis oleh sastrawan besar negeri ini.
Film yang mengangkat sejarah tenggelamnya sebuah kapal dengan dibumbuhi kisah cinta yang harus hanyut disapu gelombang adat budaya itu, menjadikan para penonton berduyun-duyun mendatangi bioskop. Begitu juga dengan sepasang kekasih di sebuah perkantoran swasta Solo ini, Cempluk dan Koplo, yang juga sudah ngampet nonton.
“Cin, besuk minggu jangan lupa jemput cinta jam 11.00 teet, ya.” Cempluk ngelingke Koplo lewat sms-nya.
“Iya, Say. Pasti cinta tepat waktu.” Jawab Koplo.
Hari sabtupun berganti minggu. Dengan motor lanangnya, Koplo menghampiri kekasihnya, Cempluk. Akhirnya jam 11.30 Wib. Mereka sampai di salah satu mall besar di kota Bengawan dan mulai ngantri tiket.
Jam 12.00 tepat, mereka dan penonton lainnya akhirnya bisa menikmati film yang mereka tunggu-tunggu.
Keadaanpun hening ketika film diputar. Saking terenyuhnya menonton  film itu, Cempluk meneteskan air mata dan mengambil secuil tisu dalam kantongnya.
 “Huks.. huks.. ” Suara Cempluk sambil merapatkan kepalanya ke lengan Koplo.
Ampun nangis, Dhik, kan Cuma film lho.” Jawab Koplo.
“Huks..huks.. Huks..” Tangisan cempluk masih terdengar lirih.
Saat itu juga penonton sebelahnya yang dari tadi memperhatikan Cempluk nyelethuk, “Mbake ki, mung ngono wae nangis”.
Tiba-tiba beberapa orang yang mendengar suara itu langsung tertawa dan memandang pasangan Koplo dan Cempluk. Walaupun keadaan remang-remang, Koplo tak bisa menahan rasa malunya. Ia hanya bisa cengar-cengir sendiri. Ealaah..., ceweknya yang polah, tapi cowoknya yang kepradah niee..


Bisri Nuryadi
Bolon, Rt.004/Rw.002

Kec. Colomadu, Kab. Karanganyar. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar