Kamis, 12 Maret 2015

PRAHARA CAOS TEMPURA

PRAHARA CAOS TEMPURA
Ora ubet ora ngeliwet, itulah semboyan hidup John , salah satu warga di Karanganyar ini. Karena sudah bertahun-tahun bekerja di pabrik namun kendhilnya masih saja nggoling, iapun membanting stir untuk berjualan tempura. Sebab ia merasa hasil berjualan itu lebih besar untungnya daripada kerja di pabrik yang monoton.
Kejadian lucupun  terjadi beberapa pekan yang lalu saat Koplo ngedoli tempura kepada ibu disalah satu perumahan Karanganyar.
“Mas, tumbas tempurane dua, ya. Tak tinggal bentar.” Ucap ibu itu, sebut saja Lady Cempluk.
Nggih, Bu.” Jawab Koplo.
Koplopun dengan cekatan menggoreng tempura pesanan Cempluk. Beberapa menit kemudian Beterbanglah bau gurih menggigit hidung yang menandakan tempura sudah matang. Tempura dientas, didiamkan sebentar lalu dimasukanlah ke dalam plastik oleh Koplo. Dan dimasukanlah caos kedalamnya.
“Bu, sampun”. Koplo memanggil Cempluk.
Nggih, Pak. Pinten?” Tanya Cempluk sambil keluar dari rumah.
Setelah selesai urusan pembayaran, Koplo langsung bergegas mencari pelanggan berikutnya. Namun, belum jauh sepedanya, Koplo mendengar suara Cempluk memanggil.
Mas.. mas.. sampeyan ki pripun? Kok caose pedes. Anakku nganti nangis.” Bentak Cempluk dengan nada agak tinggi.
Ngapunten, Bu. Kula kinten kangge jenengan.” Jawab Koplo sambil menghentikan sepeda.
Dengan penyesalan yang tinggi, Koplopun akhirnya menawari Cempluk untuk menukar Tempuranya. Namun Cempluk menolaknya dan ia pesan tempura lagi walau dengan grememengan sendiri.  Koplopun sendika dhawuh walau dalam hatinya pro kontra antara senang dan menyesal.
Oalah.. dasar penjual baru. Makannya tanya dulu to, Pak Koplo.

Bisri Nuryadi
Bolon, Rt 004/002
Kec. Colomadu, Kab. karanganyar





Tidak ada komentar:

Posting Komentar