PRAHARA
CAOS TEMPURA
Ora
ubet ora ngeliwet, itulah
semboyan hidup John , salah satu warga di Karanganyar ini. Karena sudah
bertahun-tahun bekerja di pabrik namun kendhilnya
masih saja nggoling, iapun membanting
stir untuk berjualan tempura. Sebab ia merasa hasil berjualan itu lebih besar
untungnya daripada kerja di pabrik yang monoton.
Kejadian lucupun terjadi beberapa pekan yang lalu saat Koplo ngedoli tempura kepada ibu disalah satu
perumahan Karanganyar.
“Mas, tumbas tempurane dua, ya. Tak tinggal bentar.” Ucap ibu itu, sebut
saja Lady Cempluk.
“Nggih, Bu.” Jawab Koplo.
Koplopun dengan cekatan
menggoreng tempura pesanan Cempluk. Beberapa menit kemudian Beterbanglah bau
gurih menggigit hidung yang menandakan tempura sudah matang. Tempura dientas, didiamkan sebentar lalu
dimasukanlah ke dalam plastik oleh Koplo. Dan dimasukanlah caos kedalamnya.
“Bu, sampun”. Koplo memanggil Cempluk.
“Nggih, Pak. Pinten?” Tanya Cempluk sambil keluar dari rumah.
Setelah selesai urusan
pembayaran, Koplo langsung bergegas mencari pelanggan berikutnya. Namun, belum
jauh sepedanya, Koplo mendengar suara Cempluk memanggil.
“Mas.. mas.. sampeyan ki pripun? Kok
caose pedes. Anakku nganti nangis.”
Bentak Cempluk dengan nada agak tinggi.
“Ngapunten, Bu. Kula kinten kangge jenengan.” Jawab Koplo sambil
menghentikan sepeda.
Dengan penyesalan yang tinggi,
Koplopun akhirnya menawari Cempluk untuk menukar Tempuranya. Namun Cempluk
menolaknya dan ia pesan tempura lagi walau dengan grememengan sendiri.
Koplopun sendika dhawuh walau
dalam hatinya pro kontra antara senang dan menyesal.
Oalah.. dasar penjual baru.
Makannya tanya dulu to, Pak Koplo.
Bisri
Nuryadi
Bolon,
Rt 004/002
Kec.
Colomadu, Kab. karanganyar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar