Kamis, 12 November 2015

Salah Stempel


Salah Stempel

Dalam paradigma warga desa, predikat mahasiswa masih dianggap sebagai kaum yang terpelajar. Atas dasar itulah, John Koplo yang berdomisili di Boyolali pinggiran ini dipercaya warga desanya untuk menjadi sekretaris. Entah itu sekretaris karang taruna maupun sekretaris takmir masjid.  Beberapa hari yang lalu, sehabis sholat maghrib Koplo di temui Gembus, ketua takmir masjidnya.

“Mas Koplo, nyuwun tulung ndamel undangan nggih. Kangge rapat persiapan bulan Ramadhan.” Ucap Gembus.
Nggih, Pak. dintene menapa?” tanya Koplo.
Malem Senin, Mas. Wektune sami kados biasanipun.” Terang Gembus.

Mengetahui waktu tinggal beberapa hari, Koplopun dengan sigap mengerjakan tugas tersebut. Esuk harinya, setelah diprint ia langsung menuju rumah Pak Gembus untuk meminta tanda tangan.
“Pak, ngapunten. Tapak asma rumiyin.” Pinta Koplo sembari menyerahkan master undangan.
Mas, menawi saged mangke bibar isyak undangan sampun rampug sedaya, nggih.” Tukas Gembus.
Nggih, Pak. Insya Allah saged.” Jawab Koplo.

Sore harinya setelah Koplo pulang dari kampus, tidak lupa ia mampir ke tempat foto copy. Bakda magrib setelah nulis nama dan menyetempel undangan yang berjumlah tiga puluhan itu, ia langsung  bergegas ngedumke. Hanya dengan waktu 45 menit, ia sudah selesai.

Alqamdulilah, sampun rampung, Pak.” Sms Koplo kepada kepada Gembus.
Nggih, Mas. Sampun, ananging stempele kok kliru stempel karang taruna.” Balas gembus.
Koplo memandang hapenya untuk beberapa saat, dan langsung mengambil sisa undangan. Benar, stempel yang seharusnya stempel masjid, kliru stempel karang taruna.

“Wadhuh.” Ucap Koplo sambil menepuk bathuke dhewe.
Besuknya sewaktu rapat, dengan malu-malu Koplo meminta maaf atas kesalahan stempel tersebut. Mendengar itu para takmir tertawa terkekeh-kekeh.

Bisri Nuryadi
Bolon Rt 004/Rw 002. Kec. Colomadu
Kab. karanganyar


Tragedi Gigi Palsu

Tragedi Gigi Palsu

Jalan pertobatan itu tidak datang dari satu pintu, buktinya John Koplo, remaja Sukoharjo yang dulunya dikenal sebagai pemabuk, kini mendadak menjadi takmir masjid aktif. Semua berawal dari dua bulan yang lalu ketika ia mengalami kecelakaan dan harus perawatan, termasuk pemakaian gigi palsu bagian samping.

Beberapa hari yang lalu, seperti biasa bakda dhuhur dibulan puasa ini digunakan beberapa remaja masjid untuk mengaji. Sekitar jam satu, satu-persatu remaja itu bersiap menyelonjorkan kakinya untuk mengambil posisi tidur, termasuk Koplo.

Dua jam berlalu, Koplo terbangun dan segera keluar masjid menuju toilet. Karena keadaan berpuasa, membuat mulutnya kering dan pahit, ditambah lagi dengan bau gigi palsunya. Untuk itu ia segera mencopot dan membersihkannya. Lima menit kemudian, ia keluar.

 “Plo, wis manjing. Gek ndang diadzani.” Ucap Gembus yang ternyata juga sudah terbangun.
Iya.” Jawab Koplo sembari berwudhu.
Setelah selesai ia segera menuju mimbar, dan suara adzan ashar-pun menggema dari toa masjid. Sekian menit berlalu selesailah Koplo mengumandangkan adzan dan dengan langkah yang kesusu  ia kembali ke toilet yang tadi.

Namun sayang, pintu toilet tertutup pertanda ada orang yang sedang berhajat di dalam. Koplo hanya terpaksa menunggu di luar. Tiba-tiba Koplo dikagetkan ucapan Gembus.
Lho.. ngapa, Plo? Mbaleni sing ketinggalan.” Klakar Gembus sambil ngguyu ngikik.
Mak prepett...” Konsentrasi Koplo langsung buyar.

Untung pintu toilet segera di buka. Setelah orangnya keluar, Koplo langsung masuk kedalam dan menguncinya.
Teman-teman jamaah yang mengetahui tingkah Koplo langsung tertawa ger-geran. Ternyata ketika Koplo Adzan, Gembus masuk toilet dan mengetahui gigi palsu Koplo ketinggalan. Segera saja ia memberitakan kepada teman-temanya. Ealahh.. ada-ada saja.    


Bisri Nuryadi
Bolon Rt 004/Rw 002. Kec. Colomadu
Kab. Karanganyar

















KAPUSAN KRAN BIOSKOP

KAPUSAN KRAN BIOSKOP

Tidak bisa mengikuti perkembangan jaman kadang kala mengundang tawa tersendiri. Seperti kisah John Koplo yang berdomisili di Boyolali ini. Libur lebaran beberapa pekan yang lalu ia diajak Gembus, teman karibnya yang mudik dari Jakarta.

 “Plo, nanti malam nonton bioskop ya?” Telpon Gembus.
“Oke Bro. Bla..bla..bla...” Jawab Koplo, Seumur-umur baru sekali ini bisa menikmati film bioskop.
Bakda ashar, Gembus meghampiri Koplo. Empat puluh menit perjalanan mereka sampai di salah satu swalayan besar di Solo.

Pilih endi, Plo?” Tanya Gembus setelah masuk ke lantai bioskop.
Iki wae Mbus, mesthi apik.” Tuding Koplo ke poster bergambar superhero semut.
Gembuspun hanya manut saja dan segera menuju ke tempat pembelian tiket. Karena film diputar pada pukul 18.00 maka mereka harus menunggu beberapa saat. Disaat itu Koplo merasa ingin buang air.

Mbus, Toilete ngendi ya?” Tanya Koplo.
Gembus segera menoleh kanan-kiri, dan ditemukanlah panah bertulis toilet.
Oh, Kae, Plo.” Ucap Gembus dan segera mengantarnya.

Koplo masuk dan segera melunasi hajatnya. Setelah itu ia beranjak ke staffol untuk mencuci tangan. Ia menetesi tanganya dengan sabun cair yang sudah disediakan. Saat tangannya sudah munthuk, ia bingung karena tidak mendapati kran pemutar, disitu hanya ada krannya saja tanpa pemutar. Karena tidak berani bertanya kepada orang, Koplo keluar sebentar menemui Gembus. Orang-orang yang melihat tingkah Koplo hanya geli menahan tawa.

 “Mbus, kok puteran krane ora ana?” Tanya Koplo.
Gembuspun kaget bukan kepalang.
 “Biasanya kran di bioskop itu otomatis, Plo. Tangan tinggal didekatkan moncong kran, setelah itu keluar airnya.” Bisik Gembus sambil menyeret Koplo kembali ke toilet.
Gembus hanya bisa mbatin, “Masya Allah,  jebul kancaku wis ketinggalan jaman tenan.”

Bisri Nuryadi

Bolon, Rt 004/002. Kecamatan Colomadu, Karanganyar.

Untung ada CCTV

Untung ada CCTV

“Semakin bertambah umur, berkuranglah daya ingat seseorang”. Teori ini juga terpakai oleh John Koplo, guru honorer berkepala lima yang mengajar di salah satu SMP di Sragen. Kebetulan beberapa minggu yang lalu disekolahnya mengadakan UTS(Ulangan Tengah Semester).

“Bapak ibu guru yang saya hormati ... bla.. bla..bla..” Breefing Kepsek sebelum UTS dimulai.
Menit berganti dan jam-pun berlalu. Ketika UTS selesai, para guru kembali ke kantor untuk mengembalikan lembar jawab dan persiapan pulang.

 “Tas kula kok boten wonten nggih, Pak.” Ucap Koplo kebingungan.
Lha wau jenengan selehke pundi, Pak?” Tanya Gembus.
Biasane nggih mriki niku.” Jelas Koplo.

Gembuspun membantu Koplo dan tak lupa mencari bantuan guru lain untuk menemukan tas tersebut. Ketika beberapa saat tas tidak ditemukan, guru lainnya yaitu Cempluk memberi solusi, “Pak, kan disekolah kita ada CCTV?”

Mendengar itu beberapa guru langsung menuju ke ruangan tempat komputer CCTV berada. Salah satu guru yang mengoperasikan menunjukan rekaman ruang kantor saat Koplo masuk.
“Lho, niki Pak Koplo masuk kantor boten ngasta tas.” Jelas Nikole penjaga CCTV.
“Coba lihat waktu Pak Koplo masuk  sekolah, Bu.” Ujar Cempluk.

Nikole segera menunjukan rekaman video CCTV saat Koplo masuk ke sekolah. Dan badalaahh... ternyata ia tidak membawa tas.

“Astagfirullah.. Jebul tasku dirumah.”Ucapan Koplo mengagetkan teman-temannya.
Para guru-pun saling pandang dan gedheg-gedheg sendiri, yang akhirnya pecah menjadi tawa. Ternyata Koplo sengaja tidak membawa tas saat UTS karena menurut ia hanya membebani saja. 
Ealahh.. Lalen kok diopeni.” Celethuk Gembus.


Bisri Nuryadi
Bolon, Rt 004/002. Kecamatan Colomadu, Karanganyar.


Dipipisi Wedhus

Dipipisi Wedhus

Idul Adha merupakan salah satu hari yang ditunggu-tunggu umat muslim dunia, termasuk John Koplo, keluarga yang berdomisili di desa, Colomadu ini. karena keinginannya untuk berkorban sangat kuat, maka beberapa hari yang lalu Koplo dan istrinya, Lady Cempluk bergegas untuk mencari kambing kurban.

Bi, pados sing rada enom mawon.” Permintaan Cempluk.
Ya mengko ndelok-ndelok sek, Mi.” Jawab Koplo. 

Tak lama kemudian, berangkatlah Koplo dan Cempluk mubeng-mubeng mencari penjual kambing ke arah timur bangjo Colomadu, karena disitu banyak ditemukan penjual kambing dadakan.
Setelah melewati beberapa penjual kambing, akhirnya Cempluk menepuk-nepuk pundak Koplo.
“Abi-abi. stop. Kidul nika kadose kathah kambinge.” Teriak Cempuk.
O, ya, Mi. Tak nyebrang sek.” Koplo menimpali.

Pasangan itupun segera menghentikan motornya dan melihat-lihat kambing yang dijual.
Mangga pinarak, Pak. Pados ingkang menapa?” Tanya Tom Gembus, penjual kambing.
Selang beberapa menit, Koplo dan Cempluk menemukan kambing yang sesuai dengan keinginannya.

 “Niki pinten, Pak?” Tanya Koplo.
Kalih welas, Pak.”Jawab Gembus yang berarti satu juta dua ratus.
Lha pase pinten, pak? ” Tanya Koplo lagi.

Merekapun terlibat nyang-nyangan sampai ditemukan kesepakatan harga. Selanjutnya Koplo segera mengurusi administrasi.
Saat itulah kejadian ora penak menimpa Cempluk sewaktu ia memandangi kambing yang segera menjadi miliknya. Entah haus atau apa, kepala kambing di hadapkan ke kelaminya, lalu keluarlah air seni dengan muncrat. Payahnya air kuning itu menyemprot mengenai sayak Cempluk.

“Masya, Allah. Abiii!” Cempluk teriak.
Mendengar suara itu, Koplo dan Gembus langsung menghampiri Cempluk dan segera menangani kejadian. Pembeli lain yang melihatpun pada cekikikan.



Es Tombok Campursari

Es Tombok Campursari

Penjual jajanan yang kreatif sudah pasti akan mengundang anak-anak untuk menghampirinya. Seperti yang dilakukan Tom Gembus, salah satu penjual es keliling yang beberapa hari lalu berjualan di desa John Koplo, Kartasura. Gembus dengan lincah memainkan alat musik mbelero, alat musik yang digunakan untuk drum band, demi menarik simpatik anak-anak.

“Ting..ting....ting..ting....ting..” Bunyi notasi lagu “tukang becak” yang segera membuat anak-anak sekitar berkerumun mengelilinginya.

Beberapa anak membeli es tersebut, namun banyak yang tidak membeli karena memang berat diongkos. Kebetulan saat itu Koplo baru pulang dari kerjanya.
Lik, tukokne es campurari.” Rengek Nicole, keponakan Koplo.
Ya, Nduk. Sek ya.” Jawab Koplo.

Koplo keluar rumah untuk melihat penjual es yang kebetulan mandeg di timur rumahnya.
Lho kok mung padha nonton thok, ora tuku?” Tanya Koplo kepada anak-anak tetangga.
Ora duwe dhuwit og, Mas.” Jawab salah satu anak tadi.
Yowis, Pak. niki mang sukani es setunggal-setunggal, nggih.”

Mendengar itu, dengan cekatan Gembus meracik es campursari, es yang menggabungkan bahan dari wedang asle dengan tambahan cincau, kacang, nangka, jenang mutiara dan emping.
Pinten, Pak?” Tanya Koplo.
“Tiga puluh enam ribu, Pak.” Jawaban Gembus mengagetkan Koplo.
“Lha satunya hargane berapa ta, Pak?” Tanya Koplo heran.

“Empat ribu, Pak.” Jawab Gembus dengan menunjuk harga yang sudah tertulis di gerobak belakang. Koplo baru tahu tulisan itu karena tadi ia datang dari arah depan, jadi tulisan harga tidak kelihatan.
Akhirnya Koplo terpaksa menggagahi dompetnya sembari grundelan sendiri,”Asemik.. tak kira regane mung sewunan.”




Sholat Tandingan

Sholat Tandingan

John Koplo adalah salah satu siswa dari SMK swasta di Sukoharjo. Sejak duduk dikelas XII ia selalu rajin menjalankan ibadah sholat berjamaah, termasuk sholat dhuhur yang ditunaikan di masjid sekolah.  Seperti pada beberapa minggu yang lalu Koplo sempat ketinggalan sholat waktu jam istirahat ke-dua karena harus mengerjakan tugas sekolah terlebih dahulu.

“Tak tinggal sholat sek, Ya.” Pamit Koplo kepada temannya.

Sampai di masjid ia pun segera berwudhu dan masuk. Kebetulan siang itu sang imam tidak menempati ruang imam dan hanya di pinggir sebelah kiri masjid. Ini adalah efek dari sang imam yang sebenarnya makmum masbuk yang kemudian menjadi imam karena pundaknya ditepuk. Karena itu lah posisi makmum mengikuti imam di belakangnya sampai belakang. Ini membuat ruang masjid tidak penuh, hanya diisi yang sebelah kiri saja.

Dari situlah Koplo timbul inisiatif untuk menegakkan sholat sendiri di ruang masjid yang sebelah kanan, bersebelahan dengan jamaah yang tadi.

Dhik, sholat kana wae.” Ajak Koplo kepada makmum yang lain yang kebetulan adik kelasnya.
Beberapa adik kelas itu lalu menerima ajakan Koplo, dan akhirnya membentuk formasi sholat.
“Shof diluruskan.” Pinta Koplo.

Namun sebelum takhbiratul ihram dimulai, tidak disangka-sangka datanglah Tom Gembus guru Koplo yang ingin menunaikan sholat dhuhur juga. Tanpa banyak bicara Gembus langsung mendekati Koplo.

“Plo.. Satu masjid itu hanya boleh satu jamaah saja.” Jelas Gembus.
“Apa iya ta, Pak?” Koplo kaget.
 “Kaya politik wae, ngedeke tandingan.” Lanjut Gembus dengan tersenyum.

Koplopun hanya bisa cengar-cengir sendiri mendengar penjelasan dari gurunya itu. “Tujeknen durung dimulai.” Grememeng Koplo.
Adik-adik kelas Koplo yang akan menjadi makmumpun nyekikik sendiri merasa kapusan oleh tingkah sok tau koplo. Ealahh...




  


TPA-ne digusur?

TPA-ne digusur?

Anak yang masih lugu terkadang megundang kelucuan tersendiri. Begitu juga halnya dengan John Koplo dan kawan-kawannya, bocah kota Bengawan yang baru duduk di bangku Taman Kanak-Kanak ini.
Beberapa pekan yang lalu, setiap hari senin jam 16.00 seperti biasa Koplo bersama teman-teman sebayanya pergi ke masjid untuk belajar membaca iqro’.

“Ayo anak-anak sekarang waktunya mengaji. Buku iqro’nya di buka.” Ucap Lady Cempluk, sang ustadzah.
“Iya, Mbak.” Sahut para santri sembari cepat-cepat membuka buku iqro’ masing-masing.

Para santriwan-santriwati itupun terhanyut dalam suasana belajar membaca iqro’, walaupun beberapa santri menyelinginnya dengan gojekan-gojekan kecil.
Empat puluh menit berlalu, anak-anak berlarian keluar masjid karena sudah waktunya istirahat. Beberapa saat kemudian, Koplo dengan suara lantang mengundang Gembus.

Mbus, reneya enek sing apik!” Ajak Koplo kepada Gembus. Namun teman-teman yang lain ikut berlarian mengerumuninya dan melihat sesuatu yang ditunjuk Koplo.
Kebetulan di barat masjid itu terpampang sebuah spanduk besar dengan tulisan yang sangat jelas, 

“Gusur TPA di  Desa kami.”
Sontak anak-anak pada kaget.
Berarti wis ora enek TPA maneh.” Celethuk Gembus.
Iya, Mbus.” Jawab Koplo.
“Tak Tanya Mbak Cempluk dulu.” Sahut  Gendhuk Nikole, yang kemudian berlari menemui ustadzah disusul teman-teman lainnya.

“Mbak, TPA kita apa mau di gusur?” Tanya Nikole.
Digusur piye ta, Ndhuk?” Tanya Cempluk kaget.
Lha tulisane kae, Mbak.” Ucap Koplo sembari menuding keberadaan spanduk.

Beberapa saat berfikir, Cemplukpun merasa Dhong, yang akhirnya tersenyum dan ngampet ngguyu.
“Yang dimaksud TPA dalam spanduk itu bukan “Taman Pendidikan Al-Qur’an”, tapi “Tempat Pembuangan Akhir atau lahan tempat sampah.” Jelas Cempluk.
Anak-anakpun hanya bisa ndomblong saja.






Kerang Pukul

Kerang Pukul

Wanita mana yang tidak menginginkan kulitnya halus? Pernyataan itulah yang membuat banyak produk atau makanan laris manis karena berkhasiat bisa menghaluskan kulit.
Demikian halnya dengan kerang, makanan laut yang kini mulai tersebar di wilayang Solo Raya, termasuk depan kampus terkenal di pabelan, Sukoharjo. Berita inipun segera menyebar ke berbagai telinga mahasiswa dikampus, termasuk sobat karib, Cempluk dan Nikole.

 “Pluk, aku gek wingi bar tuku kerang, jebul gurih og.” Ucap Nikole.
Apa ora amis, Ndhuk?” tanya Cempluk.

Ora ki. Malah jare bisa ngaluske kulit barang.” Jelas Nikole.
Mendengar penjelasan itu, Cempluk langsung terangsang ingin mencicipinya.
Ndhuk, mengko bar magrib ke kos ku ya, tak traktir kerang kuwi.” Pinta Cempluk dengan segera.

Benar, bakda maghrib Cempluk bergegas menuju penjual kerang yang dimaksud.
“Yang pedhas, Pak, lima ribu.” Kata Cempluk sembari mengatungkan uang.
“Terimakasih, Mbak” Jawab penjual kerang.

Sampai di kos, Cempluk mengirim pesan sms ke Nikole.
“Ndhuk, kerange dah siap.” Sms Cempluk.
“OK. Bro. OTW.” Balasan Nikole yang bermaksud sedang perjalanan “On The way”.

Sambil menunggu kedatangan Nikole, ia-pun mencoba kerang tersebut.
 “Kok mbukake angel, ya.” Pikir cempluk.
Tanpa banyak waktu, ia segera mengambiil pukul untuk mengepruk cangkang kerang.
Beberapa menit berselang, Nikole datang. Dan apa yang terjadi?

Jebul rasane gurih pedhes ya, Ndhuk?” Sambutan Cempluk sambil memukul kerang dengan pukulnya.
“Masya Allah, Cempluk.” Jawab Nikole kaget dan langsung ngguyu kemekelen.
  Cempluk hanya plingak-plinguk bingung melihat tingkah laku temannya.
“Kerang kuwi ora dipukul, Pluk. Nanging dibukak. Ujunge dibenggang nganggo kuku indhik-indhik.” Jelas Nikole sambil mempraktekkan.
Cemplukpun hanya bisa ndomblong.




HP-ne Ngedrop

HP-ne Ngedrop

Walaupun dibanjiri HP murah nan canggih, namun masih ada saja yang mempertahankan HP jadul dengan batunya yang ngedropan.

Kondisi yang seperti ini bisa membuat kesal orang yang sedang menelpon,  seperti yang dialami Lady Cempluk, gadis Teras, Boyolali yang sudah bertunangan dengan John Koplo ini.
Ceritanya pada hari sabtu siang sehabis kerja, sepasang remaja itu merencanakan pergi ke Nonongan, Solo, untuk keperluan sauvenir pernikahan mereka.

“Gimana, Mah. Ni aku dah siap.” Sms Koplo sembari keluar dari Pabriknya.
Beberapa menit kemudian HP Koplo berdering, dan ia-pun mengangkatnya.
Pah, iki aku wis OTW, Oke Tunggu Wae di toserba Kartasura yang tuut... tuut...tuutt...”Suara Cempluk putus karena HP-Koplo mati.

Asem.. ngedrop maneh cah”. Grundelan Koplo.
Namun dengan segera Koplo menuju toserba Kartasura yang sebenarnya ada dua toserba yang hampir berjejer itu.

“Tak tunggune kene wae.” Batin Koplo sembari menunggu di depan toserba barat bengkel.
Namun lebih dari setengah jam menunggu, sang kekasihpun tak jua bersambut. Tiba-tiba Koplo dikagetkan oleh tetangganya, Nikole.

Lho, Plo. Ngapa neng kene?” Tanya Nikole.
Ngenteni  Cempluk, Mbak”. Jawab Koplo.

Setelah basa-basi, akhirnya Koplo memberanikan diri untuk meminjam HP- Nikole. Dan benar, hanya 5 menit berlalu Cempluk yang tadi menunggu di swalayan timur bengkel datang menemui Koplo. Nikolepun berakhir.

Dengan muka kecut Cemplukpun mengucap, “Kowe iki kebangeten og, mas. HP satus ewu wae oleh anyar, masak HP ngedropan kaya ngono isih di gawa wae.”
Koplo hanya bisa pringas-pringis mendengarkan omelan calon istrinya itu. Oalahh.. melas tenan uripmu, Plo.





Rabu, 11 November 2015

Numpang Parkir Gratis

Numpang Parkir Gratis

Pacaran dengan sistem keuangan yang ngirit, terkadang menjadi  pilihan tersendiri bagi banyak pasangan. Salah satunya John Koplo, pemuda Sragen yang berpacaran dengan Cempluk yang berdomisili di Sukoharjo. Karena jaraknya yang lumayan jauh, jika ingin berkencan mereka bertemu di salah satu swalayan besar, Pabelan, untuk memakirkan salah satu motor mereka. Maklum, tempat itu dipilih karena tidak ada biaya parkir alias gratis.

Begitu halnya kejadian beberapa minggu yang lalu saat Cempluk mendapat undangan pernikahan dari temannya di Klaten. Koplo dan Cemplukpun menuju toserba tersebut.
Sesampai ditempat yang dituju, Cempluk memakirkan motornya dan segera berlalu menuju gerbang toserba.

Tidak lama kemudian Koplo menyambutnya.
“Ayo, Dhik.” Ajak Koplo.
“Iya, Mas.” Jawab Cempluk sembari mengangkat bokongnya ke atas motor.

Mereka segera menuju ke tempat yang sudah di rencanakan.
Empat jam kemudian mereka tiba kembali di Toserba tempat penitipan motor Cempluk.

Enteni sek, Mas.” Suruh Cempluk sembari menyerahkan helm.
Cemplukpun segera berjalan ke tempat parkir.
 “Karcis, Mbak.” Sapa Gembus, tukang parkir.
“ Niki, Mas.” Jawab Cempluk sambil menyerahkan karcis.
Wah awan-awan maem sop nggih sueger no, Mbak.” Ucap Gembus dengan mesem ngguyu yang sangat mengagetkan Cempluk.

Mendengar itu Cempluk merasa konangan yang hanya numpang parkir gratis tanpa berbelanja. Dengan muka yang semrawut ia-pun bergegas meninggalkan tempat itu. Slidik punya slidik ternyata Gembus sempat mendengar pembicaraan Koplo dan Cempluk saat ijin keluar melewati gerbang swalayan tadi pagi.


Takut Badut

Takut Badut

Menjadi kebanggaan tersendiri, manakala orang tua bisa membuat acara ulang tahun untuk buah hatinya. Seperti yang dialami pasangan Tom Gembus dan Lady Cempluk, warga Pengging Boyolali ini.

Dua minggu ke depan, Nicole, anak semata wayangnya genap berumur satu tahun. Rencananya, untuk meramaikan Ultah, mereka akan mengundang badut sulap.
Beberapa pekan yang lalu setelah pulang kerja, Gembus menyempatkan berhenti di bawah pohon pinggir Jalan raya yang ada iklan badutnya. Sesampai rumah, langsung saja ia menginformasikan kepada istrinya.

“Bu. Iki wis oleh nomere badut”. Ucap Gembus.
“Langsung dibel wae, Pak”. Jawab Cempluk.

Gembus langsung menghubungi nomer tersebut, yang sebenarnya si badut bernama Joh Koplo  dan memintanya untuk menghibur acara ultah di rumahnya. Hari berlalu, dan akhirnya sore yang ditunggu-tunggupun datang juga. Rumah Gembus berhias balon warna-warni menjadi pemandangan indah. Anak-anak semakin bergembira saat sang badut dengan lihai menghiburnya.

“Adik-Adik, kini tiba saatnya meniup lilin dan memotong kue”. Terang badut yang diikuti sorak-sorai anak-anak.
“Mari kita menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk teman kita, Dik Nikole.” Lanjut Badut.

Namanya juga masih balita, Nicole hanya diam saja dipangkuan ibunya.
Koplo yang menjadi badut mencoba menghiburnya.
“Dik Nikole, Ci... luukk... baaaa.” Suara Badut dengan mendekatkan wajahnya yang serba clonengan ke depan muka Nikole.

Sontak Nikole kaget dan menangis sejadi-jadinya.
“Huaa..huaa..huaaa..”. Tangis Nikole menggegerkan acara.
“Cuupp.. cuupp.. sayang.” Ortunya mencoba menenangkan.

Cempluk dengan tanggap segera meniup lilin dan memotong kuenya. Sementara Koplo si badut hanya bisa pringas-pringis, kisinan.




Amplope Kliru

Amplope Kliru

Bulan ruwah seperti sekarang ini, banyak digunakan warga untuk menikah. Termasuk Cempluk, sahabat karib Koplo dan Gembus sewaktu SMA yang akan melangsungkan pernikahan hari minggu di salah satu gedung Sumber, Solo ini.

Koplo dan Gembuspun menyusun rencana untuk mendatangani resepsi tersebut.
“Mbus, gimana besuk minggu?” Sms Koplo
“Nanti jam 7 malam aku sampai di tempatmu, Plo. Kita boncengan aja.” Jawab Koplo.
Saat hari minggu tiba, Koplopun bersiap dengan berdandan rapi. Tidak lupa ia menyiapkan uang dan segera mengambil amplop di tempat yang biasa ia menaruhnya.

“Wah. Amplope malah entek.” Batin koplo

Koplo segera menuju warung kelontong untuk mencari amplop.
Karena memang harga amplop murah, Koplo membeli dua amplop sekaligus. Beberapa saat kemudian Gembus datang.

Ayo Plo langsung wae.” Celethuk Gembus.

Dengan sigap Koplo langsung memboncengnya. Setengah jam berlalu mereka sudah sampai di gedung resepsi yang  dituju. Langsung saja dua sahabat itu masuk dan duduk. Sambil menikmati hidangan yang mbanyu mili dan mendengarkan lagu, tidak terasa jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh. Kedua mantenpun dibedhol dan di giring menuju depan guna menyalami tamu yang akan berpamitan.

Setelah salam tempel, Koplo dan Gembus segera ke parkiran, mengambil motor dan keburu pulang. Saat sampai dirumah, Koplo menyenthelkan bajunya dan mengambil amplop sisa untuk di simpan. Dan betapa kagetnya Koplo saat melihat amplop yang dianggap sisa itu tertulis namanya.

“Horok, dadi amplop sing tak wenehke Cempluk mau kosongan”. Kelakar Koplo.
Koplo langsung curhat kepada Gembus melalui Hp. Gembus hanya bisa tertawa ngekek saja mendengar cerita Koplo.






Opore Mambu

Opore Mambu

“Tak ada lebaran tanpa opor ayam”. Begitulah semboyan keluarga  John Koplo yang berdomisili di Kartasura, Sukoharjo ini. untuk itu, satu hari sebelum bakda kemarin, ibu Koplo, Cempluk menyuruh anak remajanya menyembelih ayam.

Plo, babon blorok sing ning njero kranjang kae belihen” Pinta Cempluk.
Mendengar itu, Koplo langsung semangat untuk mengambil pisau di rak belakang.
Setelah pisau diwungkal sampai landhep, bersegeralah Koplo mendatangi ayam yang dimaksud.

“Bismilahirohmanirohim..” Doa Koplo saat mau menyembelih.
Beberapa saat kemudian, Ayampun siap untuk dikum dengan air panas dan bisa diberodholi bulunya.
Malamnya sehabis takbiran, Koplo langsung menuju dapur dan segera ngungkapi tutup wajan.

 “Le, yen njikuk sisih wae?” Ucap Cempluk.

Dasar koplo orang yang tidak nggagasan. Pesan ibunya sama sekali tidak digugu.
Njikuk pinggir, padune ora oleh mangan pupune.” Batin Koplo.

Esuk harinya saat akan pergi ke lapangan untuk menunaikan sholat ID, Cempluk mengambil opor untuk sarapan keluarga. Kagetlah Cempluk ketika nyiduk opor ayam, terlihat duduh opor agak kenthel. Ia mencoba mencicipi, dan badalahh.. ternyata benar dugaanya, rasa opor berubah menjadi kecut alias mambu atau basi.

Dengan muka yang mbesengut, Cempluk langsung nyemprot anaknya.
Koplo, kowe ki piye? Gara-gara kowe opore sak wajan dadi mambu kabeh”. Dakwa Cempluk tanpa tedheng aling-aling.

Koplo kaget bukan kepalang. Ia tidak tahu kalau mangambil makanan bersantan yang sudah dihangatkan itu tidak boleh dengan mengeker-ngeker. Harus diambil yang bagian pinggir agar esuknya opor tidak basi. Menyadari salah, Koplo hanya cengar-cengir sembari mendengar luapan kejengkelan ibunya. Oalah, ora sida bakdan niee...


Bisri Nuryadi
Bolon Rt 004/Rw 002. Kec. Colomadu
Kab. Karanganyar


Kliru Toko Online

Kliru  Toko Online

Selain praktis, Belanja online juga membuat si pembelanja menjadi keren di mata orang-orang dekatnya. Seperti Lady Cempluk, seorang guru berstatus ASN(Aparatur Sipil Negara) yang mengajar disalah satu SMA Solo ini. Seperti biasa, Beberapa pekan yang lalu Cempluk kembali memesan sepatu lewat online.

 “Mau kemana, Bu?” Tanya Nikole salah satu temannya.
“Ke ATM, Bu. Nranfer uang ke toko online Bandung.” Jawab Cempluk kemayu.
Cemplukpun berlalu dari sekolahnya. Setelah menranfer, ia langsung mengirim pesan lewat BBM(Black beri masangger) sembari kembali ke sekolah.

Sampai di sekolah, ia hanya mesam-mesem saja merasa lega karena tinggal menunggu barang pesanannya datang. Tiba-tiba saat ngrumpi di kantor, Cempluk dikagetkan pesan BBM-nya.
“Bu Cempluk, maaf tranferan tidak sesuai dengan harga yang sudah disepakati”. Kata penjual Online sebut saja John Koplo.

“Maksudnya, Mas?” Tanya Cempluk kaget.
“Harga sepatu 250 tetapi uang yang ibu tranfer hanya 75.” Jelas Koplo.
Membaca pesan itu, Cempluk jadi salah tingkah. Ia teringat kalau hari itu membeli dua barang dari toko online yang berbeda, yaitu Sepatu dan toples. Dan ternyata uang yang ditranferkan tertukar, seharusnya uang untuk toples malah terkirim ke toko sepatu, begitu juga sebaliknya.

“Wah Bu, bisa kapusan jenengan.” Nikole meden-medeni.

Teman-teman sekantor yang mengetahui kejadian tersebut tidak bisa menahan tawanya. Disaat teman-temannya heboh menertawakannya,  Cempluk malah sibuk menghubungi pemilik toko online toples. Untung saja pemilik toko online tersebut mau mengembalikan uang sisanya, kalau tidak, mungkin saja Cempluk sudah kapok belanja di toko online.


Bisri Nuryadi
Bolon, Rt 004/002. Kecamatan Colomadu, Karanganyar.


Siulan Mahasiswi


Siulan Mahasiswi

Ora obah ora mamah”, itulah semboyan hidup John Koplo, mahasiswa kampus swasta Solo yang ngekos di Pabelan. Selesai jam kuliah ia langsung ke warung Mi-So dekat kampusnya untuk menjadi pramusaji. Beberapa minggu yang lalu seperti biasa ia meladeni para pelanggannya.
“Mas, mi ayamnya tiga, bakso dua, minumnya es jeruk semua.” Ucap Lady Cempluk salah satu pembeli.

“Ya, Mbak.” Jawab Koplo.
Koplopun bergegas menyiapkan pesanan. Beberapa menit kemudian Koplo kembali dengan membawa tepak berisi pesanan Cempluk. Gerombolan Cempluk yang semua mahasiswi itupun segera melahap sembari ngobrol ngalor-ngidul. Sementara Koplo masih disibukkan dengan pesanan pembeli yang lain.

Ketika Koplo melintas di samping meja Cempluk, ia mendengar suara siulan.
“Siiiuuuiiittt...” Suara siulan dari meja Cempluk.
Mendengar suara tersebut jantung Koplo langsung tratapan.Asem-ik, mbake nyingsoti aku.” Batinnya.

Ia segera berbalik arah menuju meja Cempluk, dan berucap, “Wah mbake bisa saja. Gimana Mbak, ada yang bisa saya bantu?”
Cempluk dan teman-temannya hanya saling pandang, lalu Cempluk menyahut, “Maksudnya, Mas?”
“Lho, yang tadi menyiuli saya?” Tanya Koplo.

Mendengar pertanyaan itu, Cempluk dan teman-temannya langsung menundukan kepala dengan wajah ngampet ngguyu. Tiba-tiba Nikole salah satu teman Cempluk nyeletuk, “Maaf, Mas, tadi bunyi sms HP saya.”

Mak blaiikk.. Mendengar itu, wajah Koplo langsung abang mbranang, kisinan. Ia segera minta maaf dan meninggalkan meja tersebut. Kisinan-nya tambah menjadi-njadi ketika dengan lirih mendengar grenengan dari meja Cempluk, “Mase ke-GR-an baget sih.”


Bisri Nuryadi
Bolon, Rt 004/Rw 002. Kec. Colomadu
Kab. Karanganyar