Kamis, 12 Maret 2015

Balada es puter


Dhuwit Es Puter

John Koplo adalah salah satu santri di daerah Ngarsopura yang berasal dari Sragen. Setiap hari minggu ia pasti mengikuti pengajian di sana. Begitupun dengan beberapa pekan yang lalu. Jam tujuh, pemuda ini sudah necis dengan baju koko lengkap dengan pecisnya. Tak lupa ia membawa tas untuk menaruh buku, bolpen dan kitab suci. 

Karena sudah siap, ia langsung melaju ke arah selatan. 45 menit berlalu, Koplo sudah sampai ke tempat yang ia tuju. Beberapa menit kemudian pengajianpun di mulai. Ditengah-tengah pengajian, Koplo merasa gerah dan sumuk karena kondisinya yang uyuk-uyukan. Untuk itu ia memutuskan untuk keluar sebentar sekedar mencari angin segar.

Setelah sampai di luar, pandangan Koplo tertuju kepada sebuah gerobak kaki lima.
Wah, mimik es dhisik, genah sueger tenan iki.” Batin Koplo sambil mendekati gerobak yang ternyata menjajakan es puter, es yang konon berasal dari negeri kincir angin, Belanda itu.
“Es nya satu, Mas.” Pinta Koplo kepada penjual es puter, sebut saja Tom Gembus.
Dengan cekatan, Gembus segera meracik es puter.  Dan siaplah 1 porsi es puter yang diatasnya ditumpahkan 1 bungkus kecil ketan ijo.

Niki, Mas.” Ucap Gembus kepada Koplo.
Koplopun dengan sigap melahap 1 gelas es puter yang rasanya bikin ngiler itu.

Pinten, Mas?” Tanya Koplo.
“Empat ribu, Mas.” Jawab Gembus.
 Koplo dengan segera merogoh kantongannya, dan badalahh... ternyata ia tidak menemukan dompetnya dalam celana panjangnya. Ia baru teringat kalau dompetnya tertinggal di dalam tas tempat kitab suci berada.

“Wah, ngapunten, Mas. Dompet saya ketinggalan di tas. Saya ambil sebentar ya, Mas.” Ucap Koplo dengan wajah kisinan.
“Iya, Mas. Tidak apa-apa.” Jawab Gembus sambil tersenyum.

Koplopun langsung ngacir mengambil dompetnya. Sementara itu, 2 cewek yang juga sedang menikmati es puter, Cempluk dan Nikole ngampet ngguyu melihat tingkah Koplo.

Bisri Nuryadi
Bolon Rt 004/Rw 002. Kec. Colomadu
Kab. karanganyar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar