Dhuwit Es Puter
John Koplo adalah salah satu
santri di daerah Ngarsopura yang berasal dari Sragen. Setiap hari minggu ia
pasti mengikuti pengajian di sana. Begitupun dengan beberapa pekan yang lalu.
Jam tujuh, pemuda ini sudah necis dengan baju koko lengkap dengan pecisnya. Tak
lupa ia membawa tas untuk menaruh buku, bolpen dan kitab suci.
Karena sudah siap, ia langsung
melaju ke arah selatan. 45 menit berlalu, Koplo sudah sampai ke tempat yang ia
tuju. Beberapa menit kemudian pengajianpun di mulai. Ditengah-tengah pengajian,
Koplo merasa gerah dan sumuk karena
kondisinya yang uyuk-uyukan. Untuk
itu ia memutuskan untuk keluar sebentar sekedar mencari angin segar.
Setelah sampai di luar, pandangan
Koplo tertuju kepada sebuah gerobak kaki lima.
“Wah, mimik es dhisik, genah sueger tenan iki.” Batin Koplo sambil
mendekati gerobak yang ternyata menjajakan es puter, es yang konon berasal dari
negeri kincir angin, Belanda itu.
“Es nya satu, Mas.” Pinta Koplo
kepada penjual es puter, sebut saja Tom Gembus.
Dengan cekatan, Gembus segera
meracik es puter. Dan siaplah 1 porsi es
puter yang diatasnya ditumpahkan 1 bungkus kecil ketan ijo.
“Niki, Mas.” Ucap Gembus kepada Koplo.
Koplopun dengan sigap melahap 1
gelas es puter yang rasanya bikin ngiler itu.
“Pinten, Mas?” Tanya Koplo.
“Empat ribu, Mas.” Jawab Gembus.
Koplo dengan segera merogoh kantongannya, dan badalahh... ternyata ia tidak menemukan
dompetnya dalam celana panjangnya. Ia baru teringat kalau dompetnya tertinggal
di dalam tas tempat kitab suci berada.
“Wah, ngapunten, Mas. Dompet saya
ketinggalan di tas. Saya ambil sebentar ya, Mas.” Ucap Koplo dengan wajah
kisinan.
“Iya, Mas. Tidak apa-apa.” Jawab
Gembus sambil tersenyum.
Koplopun langsung ngacir
mengambil dompetnya. Sementara itu, 2 cewek yang juga sedang menikmati es
puter, Cempluk dan Nikole ngampet ngguyu melihat tingkah Koplo.
Bisri Nuryadi
Bolon Rt 004/Rw 002. Kec. Colomadu
Kab. karanganyar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar