Entut penyegar
Kisah nyata ini terjadi beberapa hari
yang lalu, saat salah satu paguyuban Literasi dikota solo mengadakan acara
dialog dan mengundang paguyuban-paguyuban yang sejenis dari berbagai daerah di
Jawa Tengah dan Jawa
timur.
Berawal dari perdebatan sengit, John
Koplo terus nrocos mengungkapkan
berpuluh-puluh pendapatnya. Belum habis kata-kata, sudah disaut oleh Gendhuk Nikole yang berasal dari Pasuruan itu. Tidak
mau kalah, Lady Cempluk juga ikut urun
rembug yang pendapatnya jauh berbeda dengan teman-temanya. Tidak bisa
terpungkiri, Perdebadatanpun mulai memanas dan tak terelakan, ibarat api sudah
menyala-nyala yang digrujug lagi dengan bensin. “Mak wuus..”
Beberapa saat kemudian, “tiiit..tit.” suara kentut dari salah
satu peserta yang kayaknya kurang ikhlas
dan ditahan-tahan, tapi bentengnya kurang kuat.
Perdebatanpun mandheg klakep saknalika,
semua peserta tercengang dan saling berpandang-pandangan. Salah satu peserta
menutup mulutnya yang udah mulai kebelet tertawa, diikuti oleh peserta yang
lain. Para peserta tidak
tahan lagi ngampet, satu persatu
mulai tertawa kecil dengan muka memerah yang akhirnya menular ke yang lainnya. Akhir
kata, keadaan berubah menjadi dingin dengan ketawa penuh kelucuan yang tidak
bisa dibendung lagi.
Sementara itu, Tom gembus dari Blora yang
tadinya hanya duduk ndlongop saja terpesona mendengarkan debat penuh takjub. Kini,
hanya bisa ndingkluk. “kat mau kok serius
terus, tak entut sisan kapok kabeh kowe.” Batinnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar