Kamis, 12 Maret 2015

Entut penyegar


Entut penyegar
Kisah nyata ini terjadi beberapa hari yang lalu, saat salah satu paguyuban Literasi dikota solo mengadakan acara dialog dan mengundang paguyuban-paguyuban yang sejenis dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa timur.
Berawal dari perdebatan sengit, John Koplo terus nrocos mengungkapkan berpuluh-puluh pendapatnya. Belum habis kata-kata, sudah disaut oleh Gendhuk Nikole yang berasal dari Pasuruan itu. Tidak mau kalah, Lady Cempluk juga ikut urun rembug yang pendapatnya jauh berbeda dengan teman-temanya. Tidak bisa terpungkiri, Perdebadatanpun mulai memanas dan tak terelakan, ibarat api sudah menyala-nyala yang digrujug lagi dengan bensin. “Mak wuus..”
Beberapa saat kemudian, “tiiit..tit.” suara kentut dari salah satu peserta yang kayaknya kurang  ikhlas dan ditahan-tahan, tapi bentengnya kurang kuat.
Perdebatanpun mandheg klakep saknalika, semua peserta tercengang dan saling berpandang-pandangan. Salah satu peserta menutup mulutnya yang udah mulai kebelet tertawa, diikuti oleh peserta yang lain. Para peserta tidak tahan lagi ngampet, satu persatu mulai tertawa kecil dengan muka memerah yang akhirnya menular ke yang lainnya. Akhir kata, keadaan berubah menjadi dingin dengan ketawa penuh kelucuan yang tidak bisa dibendung lagi. 

Sementara itu, Tom gembus dari Blora yang tadinya hanya duduk  ndlongop saja terpesona mendengarkan debat penuh takjub. Kini, hanya bisa ndingkluk. “kat mau kok serius terus, tak entut sisan kapok kabeh kowe.” Batinnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar