Gara-gara Odong-Odong
Maraknya odong-odong di kawasan
Stadion Manahan Solo, membuat sebagian orang meniru odong-odong tersebut untuk
usaha tambahan kantong. Dengar-dengar hasilnya juga lumayan. Para peniru ini
akhirnya masuk ke desa-desa untuk mencari target penumpang.
Begitu juga dengan Desa John
Koplo, salah satu Desa di Colomadu, Karanganyar, yang juga menjadi target
masuknya odong-odong.
Beberapa pekan yang lalu, John
Koplo yang bekerja di pabrik plastik ini lagi bersantai di depan rumah sehabis
isya’ bersama para keponakannya. Belum lama setelah itu terdengarlah suara lagu
oplosan yang berjalan. Bersoraklah
para keponakan Koplo itu dengan gembira, karena mereka tahu bahwa itu adalah
odong-odong yang sedang berjalan.
Ternyata benar. Sepeda genjot
dengan empat roda yang dihiasi dengan lampu kelap-kelip itu menuju tempat
Koplo.
“Lik Oplo, umpak odong-odong.” Permintaan Cempluk, salah satu
Keponakan Koplo yang masih duduk di bangku TK.
Kemudian Koplo menggendong
keponakannya itu untuk naik ke kursi odong-odong.
“Pinten ta, Pak?” Tanya Koplo kepada sopir odong-odong, sebut saja
Gembus.
“Empat ribu, Mas. Putar-putar
satu RW ” Jawab Gembus.
“Oalah. Ayo, kabeh mlebu.” Koplo menyuruh keponakan dan anak-anak
tetangganya untuk naik ke odong-odong.
Setelah 15 menit berlalu,
odong-odong akhirnya kembali ke tempat semula.
“Niki, Pak.” Ucap Koplo sambil menyerahkan uang empat ribu rupiah.
“Semua jadinya, 32 ribu, Mas. 8
anak yang naik.” Jawab Gembus.
“Lho katane tadi 4 ribu, Pak?.”
Tanya Koplo lagi.
Setelah dijelaskan, ternyata
empat ribu itu untuk 1 anak, bukan untuk 1 odong-odong sekali putar seperti
pengertian Koplo.
“Asem..ik. malah tombok akeh, Cah.” Grememeng Koplo dengan wajah cemberut sambil melangkah masuk rumah
untuk mengambil uang kekurangannya. Ealah...
Bisri Nuryadi
Bolon Rt 004/Rw 002. Kec. Colomadu
Kab. karanganyar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar