Kamis, 12 Maret 2015

Koco halaman

Koco halaman
John koplo yang baru saja lulus dari salah satu universitas swasta di Solo, tidak terlalu sulit untuk mencai kerja. Dengan gelarnya S.Pd, ia mendaftar di SD favorit yang full day di daerah Solo baru setelah dapat info dari tetangganya. Satu minggu jatah observasinyapun sudah dilalui. John koplo sudah ngampet ingin sekali diberi jam untuk mengajar. Ia bilang kepada kepala sekolahnya, bu Lady Cempluk. “Bu, saya sudah siap untuk mengajar.” Bu Lady Cempluk pun menjawab “beneran sudah siap nih? yakin sudah siap? ga takut ma anak-anak bandel?ga boleh njewer, ga boleh njiwit, ga boleh bentak-bentak lho yaa. Yadah, mulai besuk senin mengajar di kelas 2 dulu, jadwalnya bisa diambil nanti sehabis pulang di kantor guru. Oya Pak John, jangan lupa buku paket-paketnya minta kepada penjaga perpus, bilang saja yang nyuruh saya gitu.” “woke, siap bu Lady Cempluk, Cuma ngajar kelas 2 ma, keciil. Kagak bawa buku paketpun dijamin luancar” jawab John koplo optimis banget.
Hari senin, selasa, rabu sudah berlalu. John koplo pun sudah mengenal sebagian murid kelas 2. “kalau ada murid yang rame ma, biasa. Namanya juga anak-anak” ujarnya.

Hari kamis, jam ke 5-6 jadwalnya pelajaran basa jawa. “bocah-bocah, cobo saiki dibukak LKS e koco papat, digarap sing romawi siji yo.” “nggih, Pak” jawab siswa serentak. Kecuali Tom gembus yang malah melihat jendela kaca yang dibuka dan menghitungnya. Beberapa menit berlalu, John koplo keliling melihat-lihat anak didiknya dan berhenti di samping meja Tom Gembus karena ada yang aneh dengannya. “ lho, dek tom kok malah nggarap koco wolu?” “ lha kacanya kan yang dibuka jumlahnya delapan Pak, coba dihitung sendiri itu.” Sambil menuding jendela samping kelas. “bukan koco itu, tapi koco halaman di LKS ini dek Tom.”jelas John Koplo dengan sabar. “bukan Pak, kata bapakku, koco itu ya itu, jendela kaca.” jawab kembali Tom Gembus” “Dek Tom, basa jawane halaman itu  koco”  John Koplo mulai anyel.” “bukan Pak, kata Bapakku yang itu, saya lebih percaya bapak saya.”  Suara Tom Gembus agak keras.”oo lha, bocah kok dikandani ngueyel “ tangan John Koplo memegang kuping Tom gembus hendak menjewer. Tapi belum kesampaian njewer, Tom Gembus sudah menjerit keras. “Pak John”suara bu Ladi Cempluk malangkerik di pintu kelas.” Eee Bu Cempluk. Nga, nga punten, Bu.” gemeteran tangan John Koplo dan wajahnya kemerahan karena takut.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar