Koco halaman
John
koplo yang baru saja lulus dari salah satu universitas swasta di Solo, tidak
terlalu sulit untuk mencai kerja. Dengan gelarnya S.Pd, ia mendaftar di SD
favorit yang full day di daerah Solo
baru setelah dapat info dari tetangganya. Satu minggu jatah observasinyapun sudah dilalui. John koplo
sudah ngampet ingin sekali diberi jam
untuk mengajar. Ia bilang kepada kepala sekolahnya, bu Lady Cempluk. “Bu, saya
sudah siap untuk mengajar.” Bu Lady Cempluk pun menjawab “beneran sudah siap
nih? yakin sudah siap? ga takut ma anak-anak bandel?ga boleh njewer, ga boleh
njiwit, ga boleh bentak-bentak lho yaa. Yadah, mulai besuk senin mengajar di
kelas 2 dulu, jadwalnya bisa diambil nanti sehabis pulang di kantor guru. Oya
Pak John, jangan lupa buku paket-paketnya minta kepada penjaga perpus, bilang
saja yang nyuruh saya gitu.” “woke,
siap bu Lady Cempluk, Cuma ngajar kelas 2 ma, keciil. Kagak bawa buku paketpun
dijamin luancar” jawab John koplo optimis banget.
Hari senin, selasa, rabu
sudah berlalu. John
koplo pun sudah mengenal
sebagian murid kelas 2. “kalau
ada murid yang rame ma, biasa. Namanya juga anak-anak” ujarnya.
Hari kamis, jam ke 5-6 jadwalnya pelajaran basa jawa. “bocah-bocah, cobo saiki dibukak LKS e koco papat, digarap sing romawi siji yo.” “nggih, Pak” jawab siswa serentak. Kecuali Tom gembus yang malah
melihat jendela kaca yang dibuka dan menghitungnya. Beberapa menit berlalu,
John koplo keliling melihat-lihat anak didiknya dan berhenti di samping meja
Tom Gembus karena ada yang aneh dengannya. “ lho, dek tom kok malah nggarap koco wolu?” “ lha kacanya kan yang
dibuka jumlahnya delapan Pak, coba dihitung sendiri itu.” Sambil menuding
jendela samping kelas. “bukan koco itu, tapi koco halaman di LKS ini dek Tom.”jelas John
Koplo dengan sabar. “bukan Pak, kata bapakku, koco itu ya itu, jendela kaca.” jawab kembali Tom Gembus”
“Dek Tom, basa jawane halaman itu koco” John Koplo mulai anyel.” “bukan Pak, kata Bapakku yang itu, saya lebih percaya bapak
saya.” Suara Tom Gembus agak keras.”oo
lha, bocah kok dikandani ngueyel “
tangan John Koplo memegang kuping Tom gembus hendak menjewer. Tapi belum
kesampaian njewer, Tom Gembus sudah
menjerit keras. “Pak John”suara
bu Ladi Cempluk malangkerik di
pintu kelas.” Eee Bu Cempluk. Nga, nga
punten, Bu.” gemeteran tangan John Koplo dan wajahnya kemerahan karena
takut.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar