JUJUL BENSIN
“Tumane wis kebacut nemplek” itulah kalimat jawa yang pantas di
tudingkan kepada Jon Koplo salah satu warga Karanganyar ini. Meski sudah
menjadi guru, Koplo tetap saja memegang teguh wataknya yang selalu
ngundur-ngundur waktu. Akhirnya ia menerima konsekuensi dari perbuatanya,
seperti peristiwa beberapa pekan yang lalu ini.
Walau sudah tahu bahwa hari senin
ada upacara, namun Koplo masih enak-enakan tidur padahal jam sudah menunjukan
pukul 6 pagi.
Namun setelah 15 menit kemudian,
ia gendadapan untuk mandi dan
lain-lain. Akhirnya jam 06.40 ia bergegas berangkat dengan langsung pancal
gasnya.
Wajarnya, jarak Colomadu-Boyolali
tempat Koplo mengajar itu kira-kira memakan waktu setengah jam untuk
perjalanan. Namun Koplo hanya butuh waktu 20 menit karena selalu gas poll (gase diuntir ngepol).
Sesaat ditengah perjalanan, Koplo
uring-uringan sendiri. “Oalah, bensine
kok ya wis entek.” Celethuknya.
Akhirnya ia mampir di pom
terdekat dan mengisi bensin 10.000,-. Setelah diisi, Koplo langsung ngacir takut
telat.
Jampun berlalu, di istirahatnya
Koplo seperti biasa makan siang di kantin bersama teman-teman guru lainnya.
Saat mau membayar, ia kaget karena uang 50 ribunya tidak ada. Ia baru teringat bahwa
tadi pagi uang itu ia pergunakan untuk membeli bensin, namun ia lupa mengambil jujulnya.
Setelah pulang sekolah, ia
langsung mampir ke pom yang tadi. Tanpa banyak basa-basi ia langsung
mengutarakan kedatangannya.
“ngapunten, Mas. Saya tadi pagi belum dikasih jujul.” Tukas Koplo
kepada tugas pom.
Tom Gembus Penjaga pom pun
langsung tanggap karena ia masih ingat dengan motor yang dibawanya.
“Oalah, sampeyan yang tadi ta, Mas. Apa kelebihan rejeki, kok
jujulnya tidak diambil. He..” saut Gembus menggoda.
Akhirnya, jujul Koplopun bisa
dikembalikan.
“Maturnuwun Gusti, guru honorer kados kula ampun dikelongi rejekine.”
Grememeng Koplo dijalan.
Bisri Nuryadi
Bolon Rt 004/002, Colomadu,
Karanganyar.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar