Kamis, 12 Maret 2015

Huruf Tekek Gratisan


Huruf Tekek Gratisan

Seumur-umur, baru kali ini John Koplo salah satu warga Karanganyar berurusan dengan polisi. Bukan perkara tilang, melainkan perkara mencari SIM C.
Ia jadi penasaran setelah diberi tahu oleh Bapaknya kalau tes mencari SIM itu salah satunya bisa membaca huruf tekek.    
Setelah sampai ditempat tujuan, Koplopun mulai Tanya kepada pak Polisi yang bertugas. Setelah mengambil berbagai macam formulir pendaftaran, Koplo masuk dalam ruang tes penglihatan.
“Pak, Saya mau tes membaca huruf tekek?” Koplo langsung aja menyerobot tanpa tedheng aling-aling.
“Betul sekali, Pak”. Jawab Polisi Gembus dengan senyum.
Gembuspun segera membuka buku tes buta warnanya.
Ooo..ini ta yang dinamakan huruf tekek. Ini sih ga mirip sekali dengan tekek, tapi lebih mirip dengan telur tekeknya.” Batin Koplo.
“Coba sekarang disebutkan. Ini angka berapa, Pak?” Polisi Gembus memulai mengetes.
“19, Pak.” Jawab Koplo.
“Kalau yang ini” Tanya Polisi Gembus lagi.
“78, Pak” Koplo lagi-lagi menjawab dengan benar. Dan begitu seterusnya sampai 10 pertanyaan.
“Sudah cukup.” Polisi Gembus mengakhiri pertanyaannya dengan menutup buku.
“Gimana tesnya, Pak?” Tanya Koplo penasaran.
“Bagus-bagus. Betul semua. Jadi sampeyan dinyatakan lolos.” Gembus memberi kesimpulan.
“ha..ha..ha.. alqamdulillah.. terimakasih sekali, Pak Polisi.” Koplopun menyalami Gembus dan langsung nyelonong keluar, tetapi langsung dipenggak oleh Gembus.
“Lho, Pak, Pak.. Sampeyan mau kemana?” Bengok Gembus.
“Mau tes yang berikutnya lagi, Pak” Jawab Koplo mantap.
“Ini administrasinya di bayar dulu.” Lanjut Gembus.
“Lho, bayar? Kan jawaban saya betul semua, Pak.” Koplo kaget dan ngeyel.
“Justru kalau betul itu malah mbayar, Pak!” Jawab Gembus.
Setelah dijelaskan lagi, Koplopun segera merogoh kantongannya.
Yang pada ngantripun ngekek-ngekek tak tertahankan.


 Bisri Nuryadi
Bolon Rt. 004/002 Colomadu Karanganyar


Rumus Palsu

Rumus Palsu 
“STM kok sinau”. Itulah motto para siswa kelas 2D jurusan otomotif di salah satu STM(sekarang SMK)Karanganyar, 8 tahun yang lalu ini. Sayangnya motto itu terlanjur meresap ke setiap sendi-sendi tubuh mereka, sehingga hal yang fatal-pun harus mereka hadapi.
Saat ujian kenaikan kelas, pelajaran PDKM (perhitungan Dasar Kontruksi Mesin) yang terkenal dengan rumus-rumusnya yang njlimet pun di mulai.
Ruangan full cowok  yang berisi campuran kelas 1 dan kelas 2 ini mengerjakan soal dengan thingak-thinguk, termasuk Tom Gembus, salah satu siswa otomotif 2D. Saat pengawas terlena, para siswapun saling tirunan bak rantai makanan.
Mbus, nomer 4 wis dadi rung?.” Bisik teman Gembus di belakangnya.
Wis, ndang cepet tirunen.” Jawab Gembus lirih setelah nirun jawaban dari teman lainnya.
Setelah bel berbunyi 3 kali yang berarti waktu selesai, maka pekerjaan merekapun dikumpulkan. Dengan wajah penuh lega dan tanpa dosa, para siswa keluar meninggalkan ruang ujian.
Tetapi betapa kagetnya Tom Gembus dan teman-teman lainnya ketika digiring ke ruang BP satu minggu kemudian.
“Siapa yang pertama kali menulis jawaban nomer 4 romawi 2?” Pertanyaan Koplo dengan muka serius.
Semua siswa hanya diam dan plonga-plongo saja.
“JAWAAB..”  Teriak Koplo dengan tangan menggebrak meja. “DEEERRR”
“Ja..Jawaban yang mana, Pak?” Gembus mengawali dengan suara gemeteran.
Akhirnya Koplo menyerahkan hasil pekerjaan PDKM mereka. Terlihat bahwa jawaban nomer 4 romawi 2 yang mereka tulis adalah Ko=p+10 / 5t -r=E5.
Setelah diamat-amati, mereka baru sadar kalau rumus itu bisa dibaca “Koplo Stres”, yang tak lain adalah nama guru PDKM-nya sendiri.
Setelah tak ada yang mengaku, siapa yang menciptakan rumus itu, merekapun terancam dengan pemberian Surat Peringatan beserta surat panggilan orang tua.   

 Bisri Nuryadi

Bolon, Rt 004/002 Colomadu, Karanganyar

TEH YANG TERTUKAR

TEH YANG TERTUKAR

CFD (Car Free Day) selalu digunakan oleh sebagian warga untuk berolahraga maupun bersantai ria. Tak terkecuali dengan John Koplo dan Lady Cempluk, dua sejoli yang berasal dari Karanganyar ini. Hampir setiap minggu mereka jalan-jalan di CFD idep-idep olahraga sambil ngeplekke ilat. Karena disana tersedia banyak jajanan yang menggiurkan.

Dua pekan yang lalu, dua sejoli ini kembali menapaki jalan slamet riyadi yang mereka anggap indahnya setengah mati itu. Setelah mencicipi beberapa kuliner ringan, Koplo menawari Cempluk untuk makan besar.

Dhik, maem yo.. wetengku selak keroncogan ki.” Tawaran Koplo.
Nggih, Mas.. maem apa enake, Mas?.” Tanya Cempluk.
Soto wae, Dhik. Mesthi seger. Kita cari tempat yang pas dulu.” Jawab Koplo.
Tak lama kemudian mereka duduk disalah satu warung lesehan yang menyediakan soto. Dengan cekatan penjual itu menghidangkan soto yang keluknya masih kemutuk beserta teh anget pesenan Koplo. Pasangan 2 sejoli itupun langsung melahap soto daging sapi yang rasannya selangit itu.
Karena pengunjung semakin ramai, Koplo merasa kurang nyaman jika harus berlama-lama di lesehan.

Wis, Dhik. Bali yo.” Ajak Koplo yang dengan spontan mengambil teh anget dan segera meneguknya. Namun betapa kagetnya Koplo ketika pengunjung depannya nyelethuk,
Mas, Ngapunten. Teh e sampeyan kadose sing niki.” Ucap seorang Bapak didepan Koplo yang bernama Tom Gembus itu.

Mak jedherrr..  muka Koplo sontak menjadi abang ireng setelah melihat teh miliknya masih anteng diatas meja yang berukuran sempit itu.
nga-ngapunten, Pak. Kula kesupen. Kula ijoli” suara Koplo terlihat ndredheg.
Boten napa-napa, Mas.” Jawab Gembus sambil tersenyum.
Koplo langsung menggeret Cempluk dan segera mendatangi penjual untuk membayar. Tidak lupa ia mengganti teh anget yang ia salah minum tadi walaupun Gembus sudah mengikhlaskannya. Ealaahhh...

Bisri Nuryadi

Bolon, Rt 04 / Rw 02. Kecamatan Colomadu. Kab. Karanganyar

Konangan njaplak

Konangan japlak
Di Karanganyar, ada salah satu SMK Swasta favorit yang menerapkan kurikulum baru khusus untuk kelas X. Beberapa waktu yang lalu, waktu mid semester ada pelajaran sejarah Indonesia, dimana soal-soal tidak lagi menggunakan pilihan ganda. Semua uraian. Kejadian mengharukanpun terjadi disini. Beberapa pekan yang lalu SMK ini mengadakan mid semester. Semua anak mengerjakan dengan sungguh-sungguh. Namun salah satu siswa itu bernama John Koplo. entah gawan bayi atau apa, walaupun a sudah sinau nglembur dan mruput.
Saat waktu berjalan lbih dari setngah jam, pekerjaan Koplo hampir selesai. Karena ia menggunakan jurus adalannya yaitu menyimpan kepekan yang sudah dipersiapkan dari rumah yang ia letakkan di bawah soal dan jawaban.
Waktu terus berlalu, dan pekerjaan Koplopun selesai. Ia tampak tenang dan senyum-senyum sendiri.
“Alqamdulillah, akhirnya jadi juga.” Gumamnya dalam hati.
Ia tampak leha-leha dengan posisi kaki ongkang-ongkang. Seperempat berlalu akhirnya bel berbunyi satu kali, pertanda waktu kurang 10 menit. Dengan PD Koplo keluar kelas diikuti beberapa teman yang sudah selesai mengerjakan soal.
Saat itu juga pengawas yang bernama Cempluk mengambil kertas jawaban para siswa yang sudah ditinggalkannya. Saat mengambil jawaban Koplo, Cempluk terperanjat kaget karena melihat kepekan Koplo ketinggalan di bawah lembar Jawaban.
Dengan cepat ia memanggil Koplo. “John Koplo, silahkan kembali ke kelas.”
Koplo pun kaget mendengar panggilan Bu Cempluk,”enten napa, Bu,”
“Ini apa plo,” Jawab Cempluk sambil melihatkan kepekan ke Koplo.
Koplopun tak bisa bilang apa-apa lagi selain kata maaf. Dan wajahnya pun abang ireng kisinan. Akhirnya Koplo diberikan lembar jawab baru untuk mengerjakan lagi padahal waktu tinggal sedikit.

“oalah ndelalah murid titipan,” saut salah satu teman Koplo yang bernama Gembus dan diikuti gelak tawa teman-teman lainnya. 

Ulang Tahun Facebook

Ulang Tahun Facebook
Kejadian yang dialami John Koplo, salah satu guru SMK swasta di Boyolali ini benar-benar mengharukan. Karena berhubungan langsung dengan ulang tahunnya. Ceritanya saat dia mengajar di kelas yang kebetulan binaanya, ia sudah merasakan hal-hal yang aneh.  Keanehan itu terlihat banyak siswa yang menyanyi bersama-sama. Koplopun menyuruh para siswa diam dan ia langsung memulai pelajaran.
Di pertengahan pelajaran, dua siswi diantaranya minta ijin ke belakang, sebut saja Gendhuk Nikole dan Lady Cempluk. “Pak ngapunten, badhe ijin toyan ten wingking”, Ucap kedua siswi tersebut menggunakan basa krama karena kebetulan waktu itu pelajaran basa Jawa.Nggih, mangga dhik”, Jawab Koplo.
Tak lama kemudian, kedua siswi tersebut masuk kelas disambut suara riuh para siswa lainnya. Alangkah kagetnya John Koplo karena siswi tersebut membawa kue ulang tahun lengkap dengan lilinnya. Lagu Happy birday-pun melantun mendayu-ndayu.
 “Lho, sinten sing ulang tahun?,” Tanya Koplo kebingungan.
Jenengan, Pak. Kita lihat di facebook”. Jawab Gembus salah satu muridnya. Koplo pun dengan gerak reflek langsung mengeplak bathuknya sambil berucap,” wadhuh”.
Ia teringat kalau di Fb-nya tertera tanggal 28 oktober di tanggal lahirnya, Padahal hari lahirnya 2 juli. Ia sengaja menulis tanggal itu karena tak ingin orang-orang tahu kapan ultahnya.
Karena tidak ingin membuat kecewa murid-muridnya, maka Koplo segera mengucapkan terimakasih kepada murid-muridnya dan menyalaminya satu-persatu. Setelah selesai potong kue dan meniup lilin, Koplo segera minta maaf kepada murid-muridnya karena tanggal lahir yang tertulis dalam FB itu keliru. Namanya juga anak-anak, setelah tahu kliru malah pada ngguyu kepingkel-pingkel.
Koplopun langsung mengalami kontroversi hati dan mbatin, “Oalah, sakjekke urip lagi iki aku nyebul lilin ultah. Jebul penak tenan diulang tahuni. Maturnuwun murid-murid”.

Bisri Nuryadi

Bolon Rt.004/002 Kec. Colomadu, Kab. Karanganyar

Tangisan Bioskop

Tangisan Bioskop
Beberapa hari yang lalu, salah satu bioskop ternama di Solo memutar film atas novel yang pernah ditulis oleh sastrawan besar negeri ini.
Film yang mengangkat sejarah tenggelamnya sebuah kapal dengan dibumbuhi kisah cinta yang harus hanyut disapu gelombang adat budaya itu, menjadikan para penonton berduyun-duyun mendatangi bioskop. Begitu juga dengan sepasang kekasih di sebuah perkantoran swasta Solo ini, Cempluk dan Koplo, yang juga sudah ngampet nonton.
“Cin, besuk minggu jangan lupa jemput cinta jam 11.00 teet, ya.” Cempluk ngelingke Koplo lewat sms-nya.
“Iya, Say. Pasti cinta tepat waktu.” Jawab Koplo.
Hari sabtupun berganti minggu. Dengan motor lanangnya, Koplo menghampiri kekasihnya, Cempluk. Akhirnya jam 11.30 Wib. Mereka sampai di salah satu mall besar di kota Bengawan dan mulai ngantri tiket.
Jam 12.00 tepat, mereka dan penonton lainnya akhirnya bisa menikmati film yang mereka tunggu-tunggu.
Keadaanpun hening ketika film diputar. Saking terenyuhnya menonton  film itu, Cempluk meneteskan air mata dan mengambil secuil tisu dalam kantongnya.
 “Huks.. huks.. ” Suara Cempluk sambil merapatkan kepalanya ke lengan Koplo.
Ampun nangis, Dhik, kan Cuma film lho.” Jawab Koplo.
“Huks..huks.. Huks..” Tangisan cempluk masih terdengar lirih.
Saat itu juga penonton sebelahnya yang dari tadi memperhatikan Cempluk nyelethuk, “Mbake ki, mung ngono wae nangis”.
Tiba-tiba beberapa orang yang mendengar suara itu langsung tertawa dan memandang pasangan Koplo dan Cempluk. Walaupun keadaan remang-remang, Koplo tak bisa menahan rasa malunya. Ia hanya bisa cengar-cengir sendiri. Ealaah..., ceweknya yang polah, tapi cowoknya yang kepradah niee..


Bisri Nuryadi
Bolon, Rt.004/Rw.002

Kec. Colomadu, Kab. Karanganyar. 

Gara-Gara Rok Mini

Gara-Gara Rok Mini
Gencarnya lagu dangdut yang berkisah tentang rok mini, ternyata berpengaruh besar pada sebagian orang, termasuk Lady Cempluk, Gadis ABG Colomadu, Karanganyar ini. Pasalnya hampir setiap sore, Cempluk yang masih duduk di bangku SMA kelas XI ini nongkrong di pinggir jalan, timur desanya mengenakan rok mini bersama teman-teman sebayanya. Berita inipun menjadi perbincangan hangat dikalangan cowok muda warga sekitar, termasuk John Koplo dan Tom Gembus.
Kejadian lucupun terjadi. Ceritanya, beberapa pekan yang lalu, disore yang cerah, Koplo sudah siap dengan motor jago-nya. Kemudian ia memanggil Gembus dengan sms.
Piye, Bro, wis siap ?”. Sms Koplo.
“OK, Siap bos.” Jawab Gembus beberapa menit kemudian.
Dengan sigap Koplo menghampiri Gembus. Kini, dua sahabat karib itu melaju dengan muka yang menggebu-nggebu.
Ternyata benar, setelah sampai di timur Desa, Gembus dan Koplo melihat Cempluk dengan penampilan rok mininya.
Oalah, Plo. Seksi tenan ya.” Komentar Gembus.
Iya, Mbus.” Jawab Koplo dengan kalamenjingnya yang munggah-mudhun.
Namun alangkah kagetnya Koplo ketika Gembus mbengok sambil memukul-mukul pundaknya.
“Awas, Plo. Ngarepmu.” Teriak Gembus.
Koplopun baru sadar bahwa setang motornya membelok ke kiri. Padahal dipinggir jalan itu ada kalenan kecil untuk pengairan sawah. Namun, terlambat sudah Koplo membanting setangnya ke arah kanan. Akhirnya, motor bersama dua sahabat karib itupun terjungkal ke kalenan tadi.
Sontak orang-orang sekitar yang melihat kejadian itu langsung ketawa sejadi-jadinya, termasuk Cempluk dan teman-temannya. Walaupun, mereka tidak apa-apa dan kondisi motor yang hanya sedikit lecet, tapi dengan kejadian ini setidaknya mereka kapok untuk tidak  plingak-plinguk saat berkendara.



Kelangan Flesdisk

Kelangan Flesdisk
Berbagai kisah tentang hujan abu gunung kelud memang selalu menarik untuk disemak. Seperti kisah lain John Koplo berikut ini.
Beberapa pekan yang lalu, setelah hujan abu berakhir, seperti biasanya Jon Koplo, salah satu guru di SMA swasta Boyolali ini berangkat ke sekolahnya. Setelah sampai, seperti biasa Koplo mengajar sesuai Jadwal. Karena mengajarnya mengunakan LCD, iapun segera mengambil laktop dan mengecupkan kabel proyektor.
Tidak lama setelah itu, Koplo mengambil flesdisk dalam tasnya. Namun alangkah kagetnya Koplo ketika flesdisnya tidak ditemukan.
Wadhuh, kok ora enek cah.” Batin Koplo menggema.
Karena flesdisk tidak ditemukan, maka Koplopun tetap melanjutkan kegiatan belajar mengajarnya. Maklum, Guru ora kurang lakon.
Setelah selesai mengajar, Koplo kembali ke kantor. Ia mencoba mengingat-ingat. Seingatnya, semingu yang lalu Gembus, salah satu teman sekantor yang meminjam flesdisk. Untuk itu ia langsung menemui Gembus.
“Pak Gembus, flesku masih jenengan bawa ya?” Tanya koplo.
“lho, perasaan sudah aku kembalikan, Pak.” Jawab Gembus mengelak.
Lha kok ditasku tidak ada ya, Pak.” Koplo masih tidak percaya.
Akhirnya mereka berdua saling mengecek tas dan meja kerja masing-masing. Namun tidak  diketemukan.
Setelah pulang dari sekolah, Koplo tersadarkan oleh tas yang ternoda oleh abu vulkanik. Ia baru teringat bahwa tas yang dibawa hari itu bukanlah tas yang dibawa dikesehariannya. Benar saja, setelah mengecek, ditemukan flesdisk didalamnya. Iapun cengar-cengir sendiri dan mbatin, “Oalah, wis tuwa tenan sajakke aku iki. Mulai lalenan.”

Bisri Nuryadi
Bolon, RT 004/002 Colomadu, Karanganyar



PRAHARA CAOS TEMPURA

PRAHARA CAOS TEMPURA
Ora ubet ora ngeliwet, itulah semboyan hidup John , salah satu warga di Karanganyar ini. Karena sudah bertahun-tahun bekerja di pabrik namun kendhilnya masih saja nggoling, iapun membanting stir untuk berjualan tempura. Sebab ia merasa hasil berjualan itu lebih besar untungnya daripada kerja di pabrik yang monoton.
Kejadian lucupun  terjadi beberapa pekan yang lalu saat Koplo ngedoli tempura kepada ibu disalah satu perumahan Karanganyar.
“Mas, tumbas tempurane dua, ya. Tak tinggal bentar.” Ucap ibu itu, sebut saja Lady Cempluk.
Nggih, Bu.” Jawab Koplo.
Koplopun dengan cekatan menggoreng tempura pesanan Cempluk. Beberapa menit kemudian Beterbanglah bau gurih menggigit hidung yang menandakan tempura sudah matang. Tempura dientas, didiamkan sebentar lalu dimasukanlah ke dalam plastik oleh Koplo. Dan dimasukanlah caos kedalamnya.
“Bu, sampun”. Koplo memanggil Cempluk.
Nggih, Pak. Pinten?” Tanya Cempluk sambil keluar dari rumah.
Setelah selesai urusan pembayaran, Koplo langsung bergegas mencari pelanggan berikutnya. Namun, belum jauh sepedanya, Koplo mendengar suara Cempluk memanggil.
Mas.. mas.. sampeyan ki pripun? Kok caose pedes. Anakku nganti nangis.” Bentak Cempluk dengan nada agak tinggi.
Ngapunten, Bu. Kula kinten kangge jenengan.” Jawab Koplo sambil menghentikan sepeda.
Dengan penyesalan yang tinggi, Koplopun akhirnya menawari Cempluk untuk menukar Tempuranya. Namun Cempluk menolaknya dan ia pesan tempura lagi walau dengan grememengan sendiri.  Koplopun sendika dhawuh walau dalam hatinya pro kontra antara senang dan menyesal.
Oalah.. dasar penjual baru. Makannya tanya dulu to, Pak Koplo.

Bisri Nuryadi
Bolon, Rt 004/002
Kec. Colomadu, Kab. karanganyar





Sama-sama Jokonya

Sama-sama Jokonya
Pada masa kampanye seperti sekarang ini nama-nama calon Presiden sering terdengar di telinga kita melalui berbagai media, termasuk di telinga mbah John Koplo yang tinggal di kota vokasi, Solo ini. Beberapa hari yang lalu saat ia nglaras sambil mendengarkan berita di radio kesayangannya, ia dikagetkan dengan berita olahraga dari Mancanegara.
Beberapa saat setelah mendengar berita mbah Koplo bengak-bengok  memanggil istrinya, Lady Cempluk. “Bune.. Bune... reneya, iki lho beritane kok mbingungke ngene.”
Lha enek apa ta, Pak?” Jawab Cempluk sambil mendekat.
Iki lho, masak Pak mantan Walikota Solo mau bertanding tenis ke Amerika.” Koplo menjelaskan.
Cempukpun dengan seksama mendengarkan berita di radio. Ternyata yang diomongkan suaminya benar. Gantian Cempuk yang bengak-bengok memanggil cucunya, Tom Gembus, yang baru saja pulang kuliah.
Ngger, Masak pak Gubernur Jakarta yang mau mencalonkan jadi Presiden, malah mau bertanding tenis di luar negeri?” Tanya Cempluk banter
Gembus mendekat dan sejenak mendengarkan berita radio. Sontak ia langsung ngguyu cekikikan.
Lho kok malah ngguyu ta, Le?” Tanya Cempluk.
Oalah, Mbah-Mbah. Niki sanes calon presiden, nanging bener-bener pemain tenis lapangan. Namanya Djokovic. Bukan Pak Joko yang mau nyalon Presiden.” Gembus menjelaskan sambil ngguyu ngakak.
“Oalah.. berarrti sama-sama Jokonya.” Tambah Koplo.
Tom Gembuspun segera berakhir dari tempat itu sambil menggenggam cerita yang ia anggap lucu. Rencananya cerita itu mau ditulis dan dikirimkan ke salah satu harian kondang di Solo.

Bisri Nuryadi

Bolon Rt 4/ Rw 5, Colomadu, Karanganyar

Salah Masuk TPS

Salah Masuk TPS
John Koplo adalah salah satu pemuda di kecamatan Colomadu, Karanganyar, yang tidak nggagasan dengan partai politik.  Makanya waktu menerima undangan untuk menyoblos ia hanya meletakkan undangan begitu saja tanpa membaca isinya terlebih dahulu. Dengan sikap acuh tak acuh ini, Kejadian yang memalukanpun menerpa dirinya saat datang ke TPS(Tempat Pemungutan Suara).
Kurang lebih pukul 12 siang ia berniat berangkat ke TPS. Setelah sampai di TPS, ternyata hanya ada beberapa pemilih yang sedang melakukan proses pencoblosan dan PPS (Panitia Pemungutan Suara).
Wah, sepi ki. Gek ndang nyoblos gek ndang uwis.” Batin Koplo.
Mangga, Mas Koplo katuran pinarak. Lajeng mawon.” Ucap salah satu panitia, Lady Cempluk.
 “Nggih, Bu.” Jawab Gembus.
Namun beberapa saat ketika Koplo menyerahkan undangan, Cempluk mesem dan tertawa kecil setelah mengecek undangan itu.
Mas Koplo, nyuwun ngapunten. Sampeyan menika TPS 3, sanes TPS mriki. Menawi mriki TPS 2, Mas.”  Cempluk menjelaskan.
Mendengar suara Cempluk itu, Koplo kaget.
Napa nggih ta, Bu?” Tanya Koplo sambil melihat undangan.
Dan ternyata benar apa yang dikatakan Gembus, Koplo salah TPS. Seketika itu PPS dan beberapa  orang yang di situ langsung tertawa nyekikik.
Gek ndang Mas Koplo, selak tutup lho he..he..” Ucap Tom Gembus yang juga PPS, semu mengejek.
Cemplukpun menjelaskan bahwa beberapa warga di RTnya Koplo dialihkan ke TPS 3 untuk pemerataan pemilih termasuk Koplo. John Koplo hanya bisa menahan malu dengan muka abang mbranang dan langsung ngacir pergi, entah kemana.


Bisri Nuryadi
Bolon Rt 004/Rw 002. Kec. Colomadu
Kab. Karanganyar


gara-gara Kartu Gigi

Kartu Gigi
Syair dangdut yang menyatakan “lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati” ternyata tidak sepenuhnya benar.  Pasalnya John Koplo salah satu pemuda di Colomadu ini merasa kapok dengan rasa nyeri di gigi krowaknya. Karena tidak tahan dengan rasa sakitnya, akhirnya beberapa pekan yang lalu ia memutuskan untuk berobat di puskesmas terdekat di kecamatannya.

Jam setengah delapan ia sudah siap meluncur ke tempat yang sudah direncanakannya. Beberapa menit kemudian ia sampai di tempat tujuan dan segera memakirkan sepeda motor.
“Pak, Mau daftar.” Ucap Koplo kepada petugas puskesmas, sebut saja Tom Gembus.
“Silahkan ambil kartu pendaftaran di depan, Pak.” Jawab Gembus.
Koplo menuruti saja perintah Gembus. Setelah mengambil kartu pendaftaran, Koplo mengantri agak lama karena nomer pendaftarannya nomer urut 12.
Setelah setengah jam menunggu, Koplo yang dari tadi kiyer-kiyer dan gembrobyos karena ngampet sakitnya dipanggil oleh Gembus.
“Nomer 12.” Gembus memanggil lewat mikropon.
“Saya Pak.” Koplo menyerahkan nomer pendaftarannya.
“Sakit apa, Mas?” Tanya Gembus.
“Mau njadhilke gigi, Pak.” Jawab Koplo.
“Lho kok kartu pendaftarannya biru, Mas? Kalau Gigi yang merah. Coba silahkan ambil yang merah.” Gembus menjelaskan.
Mendengar itu Koplo langsung bergegas mengambil kartu yang merah, dan apesnya kartu yang merah sudah ludhes habis.
“Pak, yang merah telas niku.” Protes Koplo.
Gembus menjelaskan bahwa kartu biru itu untuk sakit umum dan yang merah untuk sakit gigi. Karena sudah terlanjur Gembus memberi saran agar meminta obat sementara ke dokter umum dan besuk kembali lagi untuk diperiksa dokter gigi.
Harus bilang apa lagi, Koplo hanya bisa mengikuti saran petugas itu. Satu setengah jam kemudian ia keluar dari puskesmas dengan mengutuk nasibnya yang sial gara-gara salah ambil kartu pendaftaran. Ealahhh...

Bisri Nuryadi
Bolon Rt 004/Rw 002. Kec. Colomadu
Kab. karanganyar


Prahara Kelengkeng Bandungan

Prahara Kelengkeng Bandungan

Hari libur merupakan hari yang tepat untuk merefres pikiran. Namun kadang kala, bisa juga menjadi momok tersendiri bagi sebagian orang, Seperti yang dialami oleh bapak-ibu guru muda di salah satu SMK swasta Boyolali ini. Waktu liburan beberapa pekan yang lalu, mereka berkunjung ke Bandungan. Setelah mubeng-mubeng di Candi gedong sanga dan makan mereka memutuskan untuk mampir ke pasar buah sebelum pulang.
 “Sekilo pinten, Bu?” Tanya Koplo kepada pedagang, sebut saja Cempluk.
25 ribu, Mas.” Jawab Cempluk.
Setelah nyang-nyangan disepakati harga per kilonya 22 ribu. Akhirnya Koplo, Gembus, Nikole dan teman-teman lainnya segera merogoh kocek mereka masing-masing. Dan merekapun ngacir melakukan perjalan pulang ke rumah.
Sampai di tengah jalan, ndilalah mereka keslidan dalan. Koplo yang berboncengan dengan Gembus segera berhenti di pinggir Jalan dan mengebel Nicole. Mereka menunggu teman-temannya di salah satu bangjo Salatiga.
Sembari menuggu teman-temannya, Koplo dan Gembus menyempatkan mencicipi kelengkeng.
Satu-demi satu mereka mengupas kulit dan melahap buahnya, namun yang mereka rasakan hanya kecut. Awalnya mereka hanya berfikir beberapa saja yang kecut, tapi ternyata semua buah berwarna pucat yang menandakan buah akan busuk.
Waduh, Pak. Kapusan niki.” Gembus Kaget.
Wah.. Nggih niku, Pak. Padahal tadi saya nyicipi manis semua.” Ucap Koplo.
Tidak lama kemudian, teman-teman yang lain datang dan mendengar cerita Koplo. Merekapun segera membuka kantong kresek wadhah kelengkeng. Dan ternyata benar, kelengkeng mereka kecut semua.
Koplo baru teringat bahwa waktu mencicipi, ia mengambil kelengkeng yang ada didepan penjual. Namun saat pedagang menimbang, ia mengambil kelengkeng dari belakangnya yang diwadhahi tumbu.
“Lha, saya kira depan belakang sama og, pak.” Koplo mencoba menjelaskan.
Teman-temannyapun memakluminya dan mereka menganggap ini sebagai pelajaran untuk tidak kapusan lagi dilain hari. Ealaahhh...

Bisri Nuryadi
Bolon Rt 004/Rw 002. Kec. Colomadu
Kab. karanganyar


Hape dikira Tikus

Hape Tikus
Tindakan yang didasari dengan rasa Kesusu terkadang membuat seseorang melakukan hal-hal yang jauh dari harapan.  Seperti John Koplo, salah satu warga Gemolong, Sragen, yang baru saja melangsungkan pernikahannya dengan Lady Cempluk 1 bulan yang lalu ini.
Dengan rumah tanggannya yang baru, Koplo dan Cempluk memilih tinggal di rumah kontrakkan sederhana. Seperti biasa, pada malam hari sebelum mereka bobok, Cempluk selalu memastikan tempat tidurnya bersih. Oleh karena itu, ia segera ngebut-ngebutke slimut. Saat itu juga ada sesosok tikus yang masuk ke dalam kamarnya. Sontak Cempluk kaget bukan main.
“Astagfirullah. Mas, ada tikus.” Teriak Cempluk sembari berlari menjauh dari kamar.
Mendengar itu Koplo segera mengambil gebuk kayu dan masuk ke dalam kamar.
Mau, tikuse neng endi dhek?” tanya Koplo.
Mau mlayu neng Pojok etan, Mas.” Jawab Cempluk.
Tanpa banyak orasi, Koplo langsung mengarahkan gebuknya ke pojok kamar. Dan benar, seekor tikus clurut dengan cepat merambat keatas dan ndelik dibawah slimut. Dengan tergesa-gesa Koplo memukul-mukul slimut yang kelihatan menonjol. Beberapa menit berlalu Koplo keluar dari kamar dengan membawa seekor tikus yang sudah mati karena gebukannya.
Kenek, mas.” Ucap Cempluk dengan perasaan lega.
Iya, Dhek. Tak guwange sisan.” Balas Koplo.
Tidak lama kemudian saat Koplo masuk rumah, ia kembali mendengar istri tercintanya njerit.
Maaaas... HP Toot screen ku kok ya mbok gebuukk.. Remuk, Mas.” Suara Cempluk yang segera membuat muka Koplo menjadi abang mbranang saknalika. Ealaaahhh... Salahe nganten anyar kok malah ngurusi tikus...



Bisri Nuryadi
Bolon Rt 004/Rw 002. Kec. Colomadu
Kab. karanganyar


KAPUSAN TENAGA DALAM

KAPUSAN TENAGA DALAM
Bagi sebagian orang, hal-hal yang berbau mistik masih dipandang sebagai sesuatu yang memiliki daya tarik tersendiri. Begitupun dengan Dul Kentut, salah satu pemuda di Karanganyar ini. Buktinya saat bekerja di Purwokerto, ia rela membayar tigaratus ribu untuk mengikuti pengisian tenaga dalam.
Kebetulan beberapa pekan yang lalu ia mengambil cuti untuk pulang ke desa. Dengan kemaki ia membeberkan ilmunya kepada sobat karibnya, Jim Belong.
 “Jim, saiki aku nduwe tenaga dalam.” Pamer Dul Kentut.
Weh, apa iya, Dul. Endi buktekna.” Jim Belong tidak percaya.
Dul Kentut bergegas mengambil telur pitik jawa yang telah dipersiapkan. Ia-pun menceritakan aturan mainnya kepada Jim Belong. Dengan mengambil nafas panjang dan membaca mantra, akhirnya Dul kentut memberikan telur itu kepada Jim Belong. Dul Kentut mengangguk, yang artinya telur sudah bisa diremas. Jim Belong mulai menggenggam telur itu dengan sekuat tenaga. Dan benar, telur tidak pecah.
Besuknya, berita mengenai tenaga dalam sudah tersebar diseluruh pemuda-pemudi desanya, termasuk Yu Cebret, mahasiswa jurusan fisika di Universitas ngetop sak Solo itu.
Dengan segera Yu Cebret mengajak Jim Belong untuk bertemu Dul Kentut.
Dul, iki Yu Cebret pengin ngerti sing kaya gek wingi.” Tukas Jim Belong.
Dengan percaya diri Dul Kentut segera melakukan hal yang diminta Yu Cebret. Yu Cebret hanya tersenyum, dan sedikit memberi komentar.
“Mas Dul Kentut, ini aku juga bisa tanpa mantra.” Tanggapan Yu Cebret sembari melakukan hal yang sama seperti Dul Kentut.
 “Menurut hukum alam, cairan di dalam telur akan tetap jika ditekan dari segala arah.” Tambah Yu Cebret. Jim Belong dan Dul Kentut hanya bisa plenggang-plenggong saja. Ealah.. tiwas wis ngetokke 300 ewu, jebule kapusan. Makannya yang normal-normal sajaa...

Bisri Nuryadi
Bolon Rt 004/Rw 002. Kec. Colomadu
Kab. karanganyar


Pitrah kok ditolak

Pitrah kok ditolak
Lebaran merupakan hari yang sangat istimewa bagi anak-anak, Karena mereka bisa mendapatkan uang pitrah dari sanak saudara maupun tetangganya. Namun berbeda dengan Tom Gembus, bocah yang masih berusia 4 tahun ini. Pasalnya Gembus sering menolak jika dikasih uang pitrah oleh sedulur-sedulurnya. Tentunya hal ini membuat John Koplo, ayahanda Gembus, sangat terpukul.
Lebaran kemarin, Koplo dan istrinya, Cempluk, memutuskan mubeng ke sedulur dan tetangga terdekat seperti yang lainnya. 
“Dhik Gembus, nanti kalau diparingi pitrah mbokdhe ditrima ya.” Pesan Koplo kepada Gembus.
Saat sampai di rumah Mbokdhe Nikole, Koplo dan Cemplukpun sungkem kepada empunya rumah.
Mbokhe, ngaturaken sugeng riyadi. Sedaya kalepatan awujud tutur utawa tindak tanduk ingkang mboten mranani ..bla..bla..bla...” Sungkem Koplo dan segera bergantian dengan istrinya.
Ketika semua sudah selesai,  Koplo dan Cempluk hendak berpamitan.
Mbokdhe, pamit riyin nggih. Niki badhe nglajengaken mubenge.” Pamit Koplo.
Oo..ngono. ya nderekake.” Jawab Nikole sembari mengambil lembaran biru di dompetnya dan menghampiri Gembus yang sedang digendong Cempluk.
Thole Gembus, niki ngge tumbas es.” Ucap Nikole dengan menyelipkan lembaran tadi ke jari-jari Gembus.
Emoh..emooh..” Tolak Gembus.
Nikolepun mengulangi adegan pemberian pitrah itu berulang kali, namun tragis, tangis Gembus malah semakin menjadi-jadi.
Yawis..suk wae nek wis gedhe ya, Le.” Nikole mengakhirinya.
Ditrima ta, Mbus.” Koplo masih ngereh-ngereh.
Karena tidak berhasil, orangtua Gembuspun menyerah.
Saat keluar dari rumah Nicole, Koplo hanya bisa muni-muni dhewe.
Piye ta,Le. Diwenehi pitrah kok ora gelem. Mbokdhe ki ya piye. ora dititipke pak e apa mboke wae.” Grundelan Koplo.
Cemplukpun hanya ngampet ngguyu Sendiri.

 
Bisri Nuryadi
Bolon Rt 004/Rw 002. Kec. Colomadu
Kab. karanganyar


Kakean Thengkleng



Kakean Thengkleng

Sudah menjadi kebiasaan, setelah semuanya selesai, panitia kurban disalah satu Desa Kec.  Colomadu Kra. Ini  berkumpul untuk menikmati bareng sebagian hewan kurban yang disisihkan. Tak terkecuali dengan john Koplo yang duduk sebagai seksi pengropok kepala dan kaki embek ini.

Bersama-sama teman remaja masjid lainnya, selesai ngropok mereka ditawarin untuk merasakan sedapnya thengkleng. Tanpa menolak, mereka langsung mengambilnya. John koplo yang dari tadi sudah ngiler mendengar kata “thengkleng” kini dengan lahapnya menyantap balung yang dibaluti daging kambing itu. Begitu juga yang lainnya, rata-rata mereka menghabiskan 2 piring.

 Selesai makan, mereka mengantar kropokan ke depan.
Mas John, nyuwun tulung diewaki nyinom ya, ibu-ibu dereng angsal” Pak Tom gembus sebagai ketua takmir minta tolong kepada John koplo.
 “Nggih pak, sekedhap nggih.” Jawab john koplo.
Sebagai remaja yang entheng tangan, john koplo langsung mengambil tepak yang diisi dengan piring-piring penuh dengan thengkleng dan nasi.
Setelah selesai nyinom,“Mas John, monggo sakniki sampeyan nedho” permintaan  Pak Tom gembus.

wah kulo sampun, Pak.” John Koplo rekak-rekake mengelak, tapi akhirnya nambah juga. “badalah, madhang maneh Mbokde..ha..ha.” batin John Koplo berdansa.
Besuknya dirumah John Koplo. Ibunya, lady cempluk dan adiknya, Gendhuk nikole nyate daging kurban sisa kemarin, karena memang daging bagiannya banyak banget.John, lho rene le, maem sate”. Ibunya memanggil.

Nggih, Bu siap”. John koplo langsung mengambil posisi duduk. Diambilnya satu sunduk sate dan digigitnya daging paling ujung.

 “mak cenut” John koplo kaget seperti ada yang ngganjel di giginya.
ngopo to le, kok ora sido dimaem?.” Tanya lady cempluk.
 “kok, untu kulo linu nggih bu?.” Balas John Koplo sambil menggigit-gigit giginya sendiri.
wah, kakean thengkleng gek wingi kuwi ha..ha..ha.” lady cempluk dan Gendhuk Nikole tertawa dan melanjutkan makan satenya.

John koplo hanya bisa sogok-sogok untu dan melihat barisan sate yang baunya slenthang-slentheng mampir ke hidungnya.

                                                                                                                                                

Anting-anting vs Ban


Anting-anting vs Ban
John Koplo yang baru saja melangsungkan pernikahannya 3 minggu yang lalu ini, masih tampak kekok dengan istrinya,  Lady cempluk. Maklum, percintaan mereka disatukan oleh kedua orang tuanya melalui perjodohan Siti nurbaya yang sudah menjadi adat di desa terpencilnya. Walau begitu, John Koplo yang kesehariannya bekerja sebagai karyawan di selepan (penggiling padi) ini sangat begitu menyayangi istrinya, Begitu juga Lady cempluk.  
Kejadian lucupun terjadi.  Sebelum berangkat kerja, John Koplo pamitan kepada istrinya.
Dhek, Mas bidhal kerjo riyin nggih” kata John Koplo kepada istrinya diwaktu pagi.
Nggih, Mas ngatos-atos nggih.” Balas Lady cempluk diikuti dengan salaman dan mencium tangan suaminya.  
John Koplo berangkat kerja dengan jalan kaki karena ban sepedanya bagian luar meteng dan harus diganti. Karena John Koplo belum mempunyai uang untuk membeli ban, maka diputuskanya berangkat berjalan kaki. “paling yen mlaku gor rolas menit, nyambi olahraga.” Begitu gumamnya.
Lady cempluk sebagai istri yang pangerten, trenyuh melihat peristiwa ini. Maka teringat anting-antingnya yang tinggal sebelah, karena sebelahnya sudah hilang entah kemana. Dengan ndelik-ndelik ia menjual anting-antingnya yang sebelah itu ke toko emas tanpa sepengetahuan suaminya.
Besoknya waktu sore, setelah John Koplo pulang dari kerja. Lady Cempluk ngajak bicara. “ee, Mas, niki kangge sampeyan” Lady Cempluk menyerahkan kresek hitam yang berisi Ban sepeda baru. Entah kebetulan atau tidak, John Koplo juga menyerahkan kresek hitam tapi kecil untuk sang istri.
Lalu keduanya penasaran dan langsung membuka.
 Mak, blaiiik.  Lady Cempluk mukanya seketika langsung tratap kaget. Ternyata isinya anting-anting baru yang hanya bersebelah seperti punyanya yang hilang kemarin.
Disisi lain John Koplo hanya bisa cengar-cengir. “Ngapunten Dhek, Sepedhane kula sade kok.. kagem tumbas anting-anting.. he”.
Akhirnya mereka berdua tertawa bersama. Sejak kejadian itu, mereka sudah tidak lagi kekok atau pekewuh lagi, bahkan selalu memberitahu bila mau mengerjakan sesuatu.








Entut penyegar


Entut penyegar
Kisah nyata ini terjadi beberapa hari yang lalu, saat salah satu paguyuban Literasi dikota solo mengadakan acara dialog dan mengundang paguyuban-paguyuban yang sejenis dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa timur.
Berawal dari perdebatan sengit, John Koplo terus nrocos mengungkapkan berpuluh-puluh pendapatnya. Belum habis kata-kata, sudah disaut oleh Gendhuk Nikole yang berasal dari Pasuruan itu. Tidak mau kalah, Lady Cempluk juga ikut urun rembug yang pendapatnya jauh berbeda dengan teman-temanya. Tidak bisa terpungkiri, Perdebadatanpun mulai memanas dan tak terelakan, ibarat api sudah menyala-nyala yang digrujug lagi dengan bensin. “Mak wuus..”
Beberapa saat kemudian, “tiiit..tit.” suara kentut dari salah satu peserta yang kayaknya kurang  ikhlas dan ditahan-tahan, tapi bentengnya kurang kuat.
Perdebatanpun mandheg klakep saknalika, semua peserta tercengang dan saling berpandang-pandangan. Salah satu peserta menutup mulutnya yang udah mulai kebelet tertawa, diikuti oleh peserta yang lain. Para peserta tidak tahan lagi ngampet, satu persatu mulai tertawa kecil dengan muka memerah yang akhirnya menular ke yang lainnya. Akhir kata, keadaan berubah menjadi dingin dengan ketawa penuh kelucuan yang tidak bisa dibendung lagi. 

Sementara itu, Tom gembus dari Blora yang tadinya hanya duduk  ndlongop saja terpesona mendengarkan debat penuh takjub. Kini, hanya bisa ndingkluk. “kat mau kok serius terus, tak entut sisan kapok kabeh kowe.” Batinnya. 

Koco halaman

Koco halaman
John koplo yang baru saja lulus dari salah satu universitas swasta di Solo, tidak terlalu sulit untuk mencai kerja. Dengan gelarnya S.Pd, ia mendaftar di SD favorit yang full day di daerah Solo baru setelah dapat info dari tetangganya. Satu minggu jatah observasinyapun sudah dilalui. John koplo sudah ngampet ingin sekali diberi jam untuk mengajar. Ia bilang kepada kepala sekolahnya, bu Lady Cempluk. “Bu, saya sudah siap untuk mengajar.” Bu Lady Cempluk pun menjawab “beneran sudah siap nih? yakin sudah siap? ga takut ma anak-anak bandel?ga boleh njewer, ga boleh njiwit, ga boleh bentak-bentak lho yaa. Yadah, mulai besuk senin mengajar di kelas 2 dulu, jadwalnya bisa diambil nanti sehabis pulang di kantor guru. Oya Pak John, jangan lupa buku paket-paketnya minta kepada penjaga perpus, bilang saja yang nyuruh saya gitu.” “woke, siap bu Lady Cempluk, Cuma ngajar kelas 2 ma, keciil. Kagak bawa buku paketpun dijamin luancar” jawab John koplo optimis banget.
Hari senin, selasa, rabu sudah berlalu. John koplo pun sudah mengenal sebagian murid kelas 2. “kalau ada murid yang rame ma, biasa. Namanya juga anak-anak” ujarnya.

Hari kamis, jam ke 5-6 jadwalnya pelajaran basa jawa. “bocah-bocah, cobo saiki dibukak LKS e koco papat, digarap sing romawi siji yo.” “nggih, Pak” jawab siswa serentak. Kecuali Tom gembus yang malah melihat jendela kaca yang dibuka dan menghitungnya. Beberapa menit berlalu, John koplo keliling melihat-lihat anak didiknya dan berhenti di samping meja Tom Gembus karena ada yang aneh dengannya. “ lho, dek tom kok malah nggarap koco wolu?” “ lha kacanya kan yang dibuka jumlahnya delapan Pak, coba dihitung sendiri itu.” Sambil menuding jendela samping kelas. “bukan koco itu, tapi koco halaman di LKS ini dek Tom.”jelas John Koplo dengan sabar. “bukan Pak, kata bapakku, koco itu ya itu, jendela kaca.” jawab kembali Tom Gembus” “Dek Tom, basa jawane halaman itu  koco”  John Koplo mulai anyel.” “bukan Pak, kata Bapakku yang itu, saya lebih percaya bapak saya.”  Suara Tom Gembus agak keras.”oo lha, bocah kok dikandani ngueyel “ tangan John Koplo memegang kuping Tom gembus hendak menjewer. Tapi belum kesampaian njewer, Tom Gembus sudah menjerit keras. “Pak John”suara bu Ladi Cempluk malangkerik di pintu kelas.” Eee Bu Cempluk. Nga, nga punten, Bu.” gemeteran tangan John Koplo dan wajahnya kemerahan karena takut.”

Manten Kembar salah Tempat

Manten Kembar tukar Tempat
Kejadian langka ini terjadi pada hari yang langka pula, ketika tanggal 12-12-2012 lalu.  Dimana banyak pasangan yang ingin menikah pada tanggal itu. Begitu juga dengan tokoh kita ini. Kakak beradik yang juga sudah mempunyai pasangan. Ladi Cempluk dengan John Koplo dan Gendhuk Nicole dengan Tom Gembus.
Kakak beradik yang tinggal di Nusukan, Solo ini ngotot untuk bisa menikah ditanggal yang cantik itu. Akhirnya, setelah melalui rapat di keluarga besarnya, orang tua Cempluk dan Nicole memutuskan untuk menikahkan anak-anaknya bareng dihari yang sama. Merekapun  menyewa salah satu gedung paling ngejreng di Solo.   
Setelah waktu yang ditentukan tiba, saat kedua pasangan memasuki panggung pengantin dan duduk di kursi dampar kencana. Mak blaiik, alangkah kagetnya MC pambiwara yang mengetahui kejadian itu, Karena  menurut adat, posisi kedua pasangan itu kliru.
Pak, ingkang mbarep wonten tengen, lheh!.” Kata MC pambiwara kepada salah satu pamong petugas.
Pamong petugas itu langsung nginclik menemui orang tua pengantin dan menerangkannya. Karena takut terjadi dengan hal-hal sing ora-ora, maka orang tua pengantin meminta untuk bertukar tempat.
Terang saja, saat kedua pengantin pindhah enggon, para tamu yang hadir tertawa ger-geran.
Kedua pasangan pengantin hanya diam sambil ikut tertawa kecil.
Koplo yang sering cengengesan, membisiki telinga cempluk.Untung yang ketukar cuma tempat duduknya, bagaimana kalau pasanganya?”
Langsung saja Cempluk njiwit paha Koplo. Koplo hanya bisa mlengeh dan klecam-klecem saja.


Bisri Nuryadi, Bolon rt4/2 kec. Colomadu, Karanganyar.

TAKUT ULER HONGKONG

TAKUT ULER HONGKONG
Usum ternak burung seperti sekarang dimanfaatkan dengan baik oleh banyak orang, termasuk John Koplo, pemuda Karanganyar ini.
Tidak heran jika berbagai pakan burung pun tersedia dirumahnya, mulai dari jewawut, millet, kotek, kroto bahkan uler hongkong-pun juga ada.   
Kejadian tragispun terjadi, saat kekasih baru Koplo berkunjung ke rumahnya.
 “Dhek, lihat burung yuk”. Ajak Koplo.
“Iya, Mas. Dari tadi suara burungnya ngoceh terus, jadi Penasaran aku.” Jawab Cempluk,  nama kekasihnya itu sambil bergegas menuju samping rumah.
“Wah, Mas. Burungnya banyak banget. “ Tukas Cempluk terkagum-kagum.
Koplopun mengambil pakan burung yang diikuti suara burung parkit dan love bird yang kemruyuk.
Kejadian histeris pun terjadi saat Koplo makani burung prenjak.
“Sekarang kita makani burung prenjak, Dhek.” Ajak Koplo sambil membawa uler Hongkong sak cepuk. Tapi betapa kagetnya Cempluk saat melihat uler Hongkong yang kruget-kruget itu.
“Aaaa.. ulaaatt...” Teriak Cempluk sambil lari keluar.
“Ga apa-apa, Dhek. Ini ga nyakot.” Koplo Menjelaskan.
Namun, Cempluk masih saja girap-girap terbayang uler hongkong tadi. Ia pun minta segera diantar pulang.
Sejak saat itu hubungan mereka menjadi renggang, karena Cempluk selalu terbayang uler Hongkong jika melihat wajah kekasihnya, Koplo. Ealahhh.. 
 
Oleh : Bisri Nuryadi
Bolon. Rt. 004/Rw.002. Colomadu, Karanganyar.