TPA-ne digusur?
Anak yang masih lugu terkadang megundang kelucuan tersendiri.
Begitu juga halnya dengan John Koplo dan kawan-kawannya, bocah kota Bengawan
yang baru duduk di bangku Taman Kanak-Kanak ini.
Beberapa pekan yang lalu, setiap hari senin jam 16.00 seperti
biasa Koplo bersama teman-teman sebayanya pergi ke masjid untuk belajar membaca
iqro’.
“Ayo anak-anak sekarang waktunya mengaji. Buku iqro’nya di buka.” Ucap Lady Cempluk,
sang ustadzah.
“Iya, Mbak.” Sahut para santri sembari cepat-cepat membuka buku iqro’ masing-masing.
Para santriwan-santriwati itupun terhanyut dalam suasana belajar
membaca iqro’, walaupun beberapa santri menyelinginnya dengan gojekan-gojekan kecil.
Empat puluh menit berlalu, anak-anak berlarian keluar masjid
karena sudah waktunya istirahat. Beberapa saat kemudian, Koplo dengan suara
lantang mengundang Gembus.
“Mbus, reneya enek sing
apik!” Ajak Koplo kepada Gembus. Namun teman-teman yang lain ikut berlarian
mengerumuninya dan melihat sesuatu yang ditunjuk Koplo.
Kebetulan di barat masjid itu terpampang sebuah spanduk besar
dengan tulisan yang sangat jelas,
“Gusur TPA di
Desa kami.”
Sontak anak-anak pada kaget.
“Berarti wis ora enek
TPA maneh.” Celethuk Gembus.
“Iya, Mbus.” Jawab
Koplo.
“Tak Tanya Mbak Cempluk dulu.” Sahut Gendhuk Nikole, yang kemudian berlari menemui
ustadzah disusul teman-teman lainnya.
“Mbak, TPA kita apa mau di gusur?” Tanya Nikole.
“Digusur piye ta,
Ndhuk?” Tanya Cempluk kaget.
“Lha tulisane kae, Mbak.”
Ucap Koplo sembari menuding keberadaan spanduk.
Beberapa saat berfikir, Cemplukpun merasa Dhong, yang
akhirnya tersenyum dan ngampet ngguyu.
“Yang dimaksud TPA dalam spanduk itu bukan “Taman Pendidikan
Al-Qur’an”, tapi “Tempat Pembuangan Akhir atau lahan tempat sampah.” Jelas
Cempluk.
Anak-anakpun hanya bisa ndomblong
saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar