Opore Mambu
“Tak ada lebaran tanpa opor ayam”.
Begitulah semboyan keluarga John Koplo
yang berdomisili di Kartasura, Sukoharjo ini. untuk itu, satu hari sebelum bakda kemarin, ibu Koplo, Cempluk menyuruh anak remajanya menyembelih ayam.
“Plo, babon blorok sing ning njero kranjang kae belihen” Pinta
Cempluk.
Mendengar itu, Koplo langsung semangat
untuk mengambil pisau di rak belakang.
Setelah pisau diwungkal sampai landhep, bersegeralah Koplo mendatangi ayam yang dimaksud.
“Bismilahirohmanirohim..” Doa
Koplo saat mau menyembelih.
Beberapa saat kemudian, Ayampun siap
untuk dikum dengan air panas dan bisa diberodholi bulunya.
Malamnya sehabis takbiran, Koplo langsung
menuju dapur dan segera ngungkapi
tutup wajan.
“Le, yen njikuk sisih wae?”
Ucap Cempluk.
Dasar koplo orang yang tidak nggagasan. Pesan ibunya sama sekali
tidak digugu.
“Njikuk pinggir, padune ora oleh mangan pupune.” Batin Koplo.
Esuk harinya saat akan pergi ke
lapangan untuk menunaikan sholat ID, Cempluk mengambil opor untuk sarapan
keluarga. Kagetlah Cempluk ketika nyiduk
opor ayam, terlihat duduh opor agak kenthel. Ia mencoba mencicipi, dan badalahh.. ternyata benar dugaanya, rasa opor berubah
menjadi kecut alias mambu atau basi.
Dengan muka yang mbesengut, Cempluk langsung nyemprot anaknya.
“Koplo, kowe ki piye? Gara-gara kowe opore sak wajan dadi mambu kabeh”.
Dakwa Cempluk tanpa tedheng aling-aling.
Koplo kaget bukan kepalang. Ia
tidak tahu kalau mangambil makanan bersantan yang sudah dihangatkan itu tidak
boleh dengan mengeker-ngeker. Harus
diambil yang bagian pinggir agar esuknya opor tidak basi. Menyadari salah,
Koplo hanya cengar-cengir sembari
mendengar luapan kejengkelan ibunya. Oalah,
ora sida bakdan niee...
Bisri Nuryadi
Bolon Rt 004/Rw 002. Kec. Colomadu
Kab. Karanganyar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar