Es Tombok Campursari
Penjual jajanan yang kreatif
sudah pasti akan mengundang anak-anak untuk menghampirinya. Seperti yang
dilakukan Tom Gembus, salah satu penjual es keliling yang beberapa hari lalu
berjualan di desa John Koplo, Kartasura. Gembus dengan lincah memainkan alat
musik mbelero, alat musik yang digunakan untuk drum band, demi menarik simpatik
anak-anak.
“Ting..ting....ting..ting....ting..”
Bunyi notasi lagu “tukang becak” yang segera membuat anak-anak sekitar
berkerumun mengelilinginya.
Beberapa anak membeli es tersebut,
namun banyak yang tidak membeli karena memang berat diongkos. Kebetulan saat
itu Koplo baru pulang dari kerjanya.
“Lik, tukokne es campurari.” Rengek Nicole, keponakan Koplo.
“Ya, Nduk. Sek ya.” Jawab Koplo.
Koplo keluar rumah untuk melihat
penjual es yang kebetulan mandeg di
timur rumahnya.
“Lho kok mung padha nonton thok, ora tuku?” Tanya Koplo kepada
anak-anak tetangga.
“Ora duwe dhuwit og, Mas.” Jawab salah satu anak tadi.
“Yowis, Pak. niki mang sukani es setunggal-setunggal, nggih.”
Mendengar itu, dengan cekatan
Gembus meracik es campursari, es yang menggabungkan bahan dari wedang asle
dengan tambahan cincau, kacang, nangka, jenang mutiara dan emping.
“Pinten, Pak?” Tanya Koplo.
“Tiga puluh enam ribu, Pak.”
Jawaban Gembus mengagetkan Koplo.
“Lha satunya hargane berapa ta,
Pak?” Tanya Koplo heran.
“Empat ribu, Pak.” Jawab Gembus
dengan menunjuk harga yang sudah tertulis di gerobak belakang. Koplo baru tahu tulisan
itu karena tadi ia datang dari arah depan, jadi tulisan harga tidak kelihatan.
Akhirnya Koplo terpaksa
menggagahi dompetnya sembari grundelan
sendiri,”Asemik.. tak kira regane mung
sewunan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar