Sholat Tandingan
John Koplo adalah salah satu
siswa dari SMK swasta di Sukoharjo. Sejak duduk dikelas XII ia selalu rajin
menjalankan ibadah sholat berjamaah, termasuk sholat dhuhur yang ditunaikan di
masjid sekolah. Seperti pada beberapa
minggu yang lalu Koplo sempat ketinggalan sholat waktu jam istirahat ke-dua
karena harus mengerjakan tugas sekolah terlebih dahulu.
“Tak tinggal sholat sek, Ya.”
Pamit Koplo kepada temannya.
Sampai di masjid ia pun segera
berwudhu dan masuk. Kebetulan siang itu sang imam tidak menempati ruang imam
dan hanya di pinggir sebelah kiri masjid. Ini adalah efek dari sang imam yang
sebenarnya makmum masbuk yang kemudian menjadi imam karena pundaknya ditepuk.
Karena itu lah posisi makmum mengikuti imam di belakangnya sampai belakang. Ini
membuat ruang masjid tidak penuh, hanya diisi yang sebelah kiri saja.
Dari situlah Koplo timbul inisiatif
untuk menegakkan sholat sendiri di ruang masjid yang sebelah kanan, bersebelahan
dengan jamaah yang tadi.
“Dhik, sholat kana wae.” Ajak Koplo kepada makmum yang lain yang
kebetulan adik kelasnya.
Beberapa adik kelas itu lalu
menerima ajakan Koplo, dan akhirnya membentuk formasi sholat.
“Shof diluruskan.” Pinta Koplo.
Namun sebelum takhbiratul ihram
dimulai, tidak disangka-sangka datanglah Tom Gembus guru Koplo yang ingin
menunaikan sholat dhuhur juga. Tanpa banyak bicara Gembus langsung mendekati Koplo.
“Plo.. Satu masjid itu hanya
boleh satu jamaah saja.” Jelas Gembus.
“Apa iya ta, Pak?” Koplo kaget.
“Kaya
politik wae, ngedeke tandingan.” Lanjut Gembus dengan tersenyum.
Koplopun hanya bisa cengar-cengir sendiri mendengar
penjelasan dari gurunya itu. “Tujeknen
durung dimulai.” Grememeng Koplo.
Adik-adik kelas Koplo yang akan
menjadi makmumpun nyekikik sendiri
merasa kapusan oleh tingkah sok tau koplo. Ealahh...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar