Dipipisi Wedhus
Idul Adha merupakan salah satu hari yang ditunggu-tunggu umat
muslim dunia, termasuk John Koplo, keluarga yang berdomisili di desa, Colomadu
ini. karena keinginannya untuk berkorban sangat kuat, maka beberapa hari yang
lalu Koplo dan istrinya, Lady Cempluk bergegas untuk mencari kambing kurban.
“Bi, pados sing rada
enom mawon.” Permintaan Cempluk.
“Ya mengko
ndelok-ndelok sek, Mi.” Jawab Koplo.
Tak lama kemudian, berangkatlah Koplo dan Cempluk mubeng-mubeng mencari penjual kambing ke
arah timur bangjo Colomadu, karena disitu banyak ditemukan penjual kambing
dadakan.
Setelah melewati beberapa penjual kambing, akhirnya Cempluk
menepuk-nepuk pundak Koplo.
“Abi-abi. stop. Kidul
nika kadose kathah kambinge.” Teriak Cempuk.
“O, ya, Mi. Tak nyebrang
sek.” Koplo menimpali.
Pasangan itupun segera menghentikan motornya dan
melihat-lihat kambing yang dijual.
“Mangga pinarak, Pak.
Pados ingkang menapa?” Tanya Tom Gembus, penjual kambing.
Selang beberapa menit, Koplo dan Cempluk menemukan kambing yang
sesuai dengan keinginannya.
“Niki pinten, Pak?” Tanya Koplo.
“Kalih welas, Pak.”Jawab
Gembus yang berarti satu juta dua ratus.
“Lha pase pinten, pak?
” Tanya Koplo lagi.
Merekapun terlibat nyang-nyangan
sampai ditemukan kesepakatan harga. Selanjutnya Koplo segera mengurusi
administrasi.
Saat itulah kejadian ora
penak menimpa Cempluk sewaktu ia memandangi kambing yang segera menjadi
miliknya. Entah haus atau apa, kepala kambing di hadapkan ke kelaminya, lalu
keluarlah air seni dengan muncrat.
Payahnya air kuning itu menyemprot mengenai sayak Cempluk.
“Masya, Allah. Abiii!” Cempluk teriak.
Mendengar suara itu, Koplo dan Gembus langsung menghampiri
Cempluk dan segera menangani kejadian. Pembeli lain yang melihatpun pada
cekikikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar